Thursday, 09 September 2010
Kemenegpora Minta Atlet dan Ofisial Tetap Waspada PDF Print E-mail
Written by niam fathun   
Wednesday, 08 July 2009 11:54
Jakarta - Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) tetap tidak melarang para atlet dan ofisial bertanding ke luar negeri, namun harus tetap waspada terhadap kemungkinan terserang virus flu babi (H1 N1) dengan menjaga kesehatan.

Kita hanya meminta seluruh atlet dan ofisial yang memperkuat kontingen Indonesia lebih memperhatikan kesehatan, selain juga prestasi, ujar Sekretaris Menegpora Wafid Muharram yang berbicara di depan wartawan mewakili Menegpora yang sedang berada di Australia, Selasa (7/7).

Hal itu dikatakan Wafid menanggapi terjangkitnya seorang ofisial kontingen Indonesia yang berlaga di Asian Youth Games, yang berakhir Minggu (5/7), di Singapura.

Dalam siaran pers yang dikeluarkan Humas KONI Selasa (7/7), FR yang bertugas sebagai Pengawas dan Pengendalian (Wasdal) di Kontingen Indonesia positif terjangkit virus flu babi (H1 NI) dan saat ini sudah dikarantina di Rumah Sakit General Hospital Singapura.

Dikatakan Wafid, pihaknya tidak bisa melarang kepergian seorang atlet bertanding ke luar negeri sehubungan semakin merebaknya virus flu babi di sejumlah negara Asia dan dunia belakangan ini.

Tidak mungkin adanya flu babi kita lantas tidak kirim atlet ke event internasional, apalagi mereka telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Olahraga tetap jalan terus, paparnya.

Menurutnya, virus tersebut bisa menyerang siapa pun yang kondisi fisiknya jelek dan tidak disiplin dalam mengatur makan dan istirahat, serta tidak mengkonsumsi vitamin yang dianjurkan dokter tim. Kondisi fisik mereka harus dijaga dengan memberikan makanan yang bergizi setiap saat sehingga tidak gampang terserang virus flu babi, tuturnya.

Selain itu, Wafid juga mengingatkan bahwa virus flu babi ini sudah menyebar di berbagai negara termasuk Indonesia, dan bukan hanya di Singapura. Yang terpenting kita harus waspada terhadap kesehatan kita. Ikuti petunjuk dokter tim, ujarnya.

Bukan hanya kondisi kesehatan atlet dan pelatih kontingen Asian Youth Games, tapi Wafid juga meminta kondisi kesehatan anggota Tim Piala Davis Indonesia yang telah bertolak ke Australia mendapat perhatian lebih serius terutama dari segi kesehatan. Saya berharap kondisi kesehatan Tim Piala Davis lebih diperhatikan, paparnya.

Secara terpisah, Abdul Rozak, anggota tim Asian Youth Games yang sudah kembali ke Jakarta menambahkan, penanganan flu babi di luar negeri juga tidak begitu buruk. Para atlet atau ofisial yang demam panasnya diatas 37 derajat celcius, langsung diperiksa dan dikarantina.
Jadi, tidak perlu kuatir bepergian ke luar negeri, karena mereka juga punya penanganan secara International dan tidak dipungut biaya, tambahnya.

Sementara itu Wakil Komandan Kontingen Indonesia, Chahya Aziz yang saat ini masih berada di Singapura membenarkan bahwa ofisial tersebut positif terjangkit virus H1 N1 berdasarkan hasil pemeriksaan medis pihak rumah sakit.

Chahya Aziz yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen II KONI ini, mengungkapkan gejala awal yang dirasakan korban adalah demam panas yang cukup tinggi, disertai bersin dan batuk.

Dipaparkan Chahya di kontingen Indonesia ada tim medis Dr. Eny Waluyan. Pada Sabtu (4/7) malam sebelumnya yang bersangkutan mengeluh demam panas dan flu batuk dan sempat diberi obat bahkan disarankan untuk istirahat total.

Karena demamnya tidak kunjung turun, pada 5 Juli kami berkoordinasi dengan petugas medis dari departemen kesehatan Singapura dan dari hasil pemeriksaan FR dinyatakan positif Virus H1 N1, ungkap Chahya.

Sampai saat ini yang bersangkutan, lanjut Chahya Aziz, berada di ruang Isolasi Rumah Sakit General Hospital Singapura. Dia akan berada di ruang tersebut sampai kondisinya benar-benar dinyatakan terbebas dari virus H1 N1.

Pagi tadi saya sempat saling kirim sms dengan dia, dan dia bilang kondisinya sudah semakin membaik hanya saja suhu tubuhnya belum stabil antara 36 hingga 38 derajat Celsius. Butuh waktu sekitar dua minggu untuk memastikan kesembuhannya, ungkapnya. Mengenai biaya perawatan, lanjut Chahya, seluruhnya ditanggung oleh Panitia. Ini berlaku bagi mereka yang terakreditasi sebagai peserta, ujarnya.

Selain FR, rekan satu kamar nya IM juga harus menjalani isolasi di salah satu rumah yang disediakan oleh panitia.

Untuk IM belum dinyatakan terjangkit virus H1 N1, namun sesuai prosedur mereka yang berinteraksi dengan korban pun harus diisolasi sampai batas waktu yang ditentukan, kata Chahya.(anm/alm/msm)