Thursday, 09 September 2010
Bambang, Transportasi yang Humanis PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Friday, 21 August 2009 09:59
”Wajah transportasi kita masih karut-marut, padahal transportasi merupakan keseharian. Harus ada kesadaran untuk berpikir dan bertindak bersama karena kondisi transportasi itu ibarat benang kusut dan air yang nyaris keruh,” kata Bambang Susantono.

Dia mengomentari kecelakaan di sektor transportasi yang datang bertubi-tubi. Setelah jatuhnya pesawat latih militer dan tenggelamnya kapal penumpang awal tahun ini, dalam sepekan antara akhir Juli-awal Agustus terjadi lagi musibah jatuhnya pesawat Merpati Nusantara Airlines di Papua, dan tabrakan dua kereta listrik di Bogor, Jawa Barat.

Sebenarnya, banyak konsep dan pemikiran untuk mengatasi keadaan ini, namun kerap terbelenggu aturan birokrasi dan kapasitas institusi yang rendah. Dia menyoroti banyaknya kasus korupsi pada proyek di sektor transportasi.

”Berbagai problem yang menjepit bisa diselesaikan kalau kita konsisten melaksanakan kebijakan dan punya nurani bersih dalam bekerja,” katanya.

Meskipun menjadi Deputi Menteri Koordinator Perekonomian bidang Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, dia lebih dikenal sebagai aktivis karena posisinya sebagai Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI).

MTI adalah organisasi profesi dan praktisi bidang transportasi. Lewat MTI, ia bicara secara kritis dan terbuka mengenai berbagai permasalahan transportasi. Semuanya berdasarkan fakta, data, dan kajian. Keaktifannya dalam organisasi profesi ini mengantar dia menjadi Vice President Eastern Asia Society for Transportation Studies (EASTS), organisasi profesi transportasi terbesar di Asia Timur dan Pasifik yang berpusat di Tokyo, Jepang.

Reputasinya dalam mengampanyekan pembangunan berkelanjutan juga mengantar dia sebagai anggota Board of Trustee The Southsouth North Foundation di Johannesburg, Afrika Selatan, yayasan yang bergerak dalam kerja sama negara berkembang dan negara maju untuk mencari pola pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam mengantisipasi perubahan iklim.

Sebagai Ketua Umum MTI sejak tahun 2004 dan terpilih untuk kedua kalinya tahun 2007, pemikiran Bambang di bidang transportasi mengalir di ranah publik dan pengambilan keputusan di lingkungan birokrat. Ia memberi pengaruh terhadap berbagai keputusan pemerintah di sektor transportasi.

MTI juga mengeluarkan buku panduan advokasi kebijakan publik bidang transportasi. Buku ini ditulis dalam bahasa populer untuk memberi pemahaman tentang dunia transportasi bagi mereka yang berlatar belakang nontransportasi.

Ia mencermati masalah transportasi, khususnya di perkotaan, rumit dan tak manusiawi. Banyak orang menanggapinya dengan sikap apatis dan sinis sehingga mengambil sikap ”inilah caraku” di perjalanan. Jalan menjadi arena konflik dan individu dipaksa bertahan agar selamat sampai tujuan.

Etika transportasi

Kembali ke Jakarta tahun 2000 setelah tugas belajar di Amerika Serikat pada 1993-1999, Bambang dihadapkan pada wajah transportasi yang ”lupa” pada etika transportasi. Bekal pengetahuan sosiologi memberinya pemahaman tentang kebiasaan manusia dan perilaku individu dalam bertransportasi. Perilaku transportasi adalah wajah kita bersama.

Maka, membedah penyakit transportasi tak hanya dilakukan secara teknis, tetapi juga nonteknis. Misalnya, ada begitu banyak jalan yang kapasitas lalu lintasnya sudah dihitung dengan berbagai rumus, tetapi faktanya sebagian badan jalan dihuni pedagang kaki lima. Artinya, kapasitas riil jalan bisa hanya setengahnya.

”Semata-mata karena faktor sosial budaya tak bisa dimasukkan dalam rumus, kita menjadikannya nomor dua. Seharusnya, tujuan akhir dibangunnya sarana dan prasarana transportasi adalah ’diterimanya’ fasilitas ini dalam keseharian masyarakat. Bukan semata-mata proyek yang berjadwal. Jadi, dibutuhkan interaksi positif antara masyarakat dan fasilitas yang dibangun, sejak awal proses,” ungkapnya.

Sewaktu kuliah program S-3 di UC Berkeley, Bambang menjadi orang yang bergantung pada angkutan umum yang praktis dan murah. Begitu pula ketika menjadi peneliti di San Francisco, ia mondar-mandir dengan kereta bawah tanah.

”Semua bisa dilakukan dengan teratur dan terjadwal, tepat dan bisa diandalkan, sistem karcisnya rapi, dan transfer antarmoda subway dan bus juga mudah dan nyaman,” katanya.

Sistem perencanaan

Hal yang mengesankan adalah sistem perencanaan transportasi dilakukan dengan metode partisipatif. Masyarakat diajak serta dalam setiap proses. Dalam merencanakan rute bus, misalnya, masyarakat ikut berembuk. Itu juga berlaku untuk menghapus rute yang merugi.

Ketergantungan pada angkutan umum itu dibingkai dalam sistem yang humanis dengan empat aspek. Pertama, keandalan. ”Misalnya, jadwal angkutan umum itu semuanya ’anti-ngaret’. Jadwal keberangkatan dan kedatangan selalu tepat, jadi warga bisa merencanakan perjalanan dengan pasti.”

Kedua, kenyamanan. Hampir semua angkutan umum layak dan nyaman ditumpangi. Ketiga, keterjangkauan. Artinya, tarif angkutan umum yang bermutu itu tetap dipatok murah, siapa pun tak sulit memanfaatkannya. Aspek keempat adalah terjaminnya keamanan.

Empat aspek itu belum tampak pada angkutan umum di Indonesia, termasuk Jakarta yang menjadi etalase bangsa. ”Hari-hari kita identik dengan berbagai masalah, macet dan suasana chaos di jalanan diterima sebagai hal biasa. Padahal kondisi ini sangat buruk, harus segera diperbaiki,” kata dosen pascasarjana Ilmu Teknik Universitas Indonesia sejak tahun 2000 ini.

Salah satu hal yang dikhawatirkan Bambang, dalam beberapa tahun lagi transportasi menjadi faktor penghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Gejalanya sudah terlihat dari hasil berbagai survei yang menunjukkan daya saing Indonesia terkendala kondisi transportasi.

Melalui MTI, dia terus berjuang. MTI terpilih menjadi The Best Domestic Transportation Society di Asia Timur dan Pasifik. Penghargaan ini disandang MTI periode 2007-2009, hingga pelaksanaan Kongres EASTS di Indonesia, November 2009.

Bersama sejumlah pakar transportasi, dia memelopori terbitnya Kamus Umum Transportasi, Mei 2009. Ia sedang mempersiapkan penerbitan buku yang mengupas berbagai dimensi transportasi, sekaligus menawarkan beragam solusinya.

Ia berharap masyarakat dapat memahami transportasi apa adanya. Ibarat jaringan darah, transportasi diupayakan agar tak menyempitkan jalur ekonomi dan sosial bangsa ini.

 

BIODATA

• Nama: Bambang Susantono 

• Lahir: Yogyakarta, 4 November 1963 

• Istri: Lusie Indrawati, SH, LLM, MBA 

• Anak: 
- Nurul Parameswari 
- Diannisa Paramita 

• Pendidikan:
- S-1 Teknik Sipil ITB, 1987 
- S-2 Planologi University of California Berkeley (UC Berkeley), AS, 1996 
- S-2 Transportasi, Teknik Sipil, UC Berkeley, 1998 
- S-3 Planologi UC Berkeley, 2000 

• Karya buku antara lain: 
- 1-2-3 langkah: Menuju Transportasi yang Berkelanjutan, 2004 - Infrastruktur Indonesia dalam Perspektif Pembangunan, 2005 dan direvisi 2007 
- 1-2-3 langkah: Menempatkan Kembali Keselamatan Menuju Transportasi yang Bermartabat, 2007

Oleh PASCAL S BIN SAJU

Last Updated on Thursday, 05 November 2009 17:31