|
PERJALANAN MENTERI Adhyaksa: Kawanua Tanah Cinta |
|
|
|
|
Written by tamzirien
|
|
Monday, 12 October 2009 09:01 |
 Matahari perlahan mulai tenggelam di balik gunung di Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara, Rabu (30/9). Sementara itu, di Stadion Klabat, Manado, setelah Pendeta Susana Elvira Regar Lumingkewas mempersilakan Franky Sahilatua menyanyi, berkumandanglah lagu Kawanua Tanah Cinta. Dengan iringan lagu yang bersyair hanya dua kalimat itu, Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyampaikan orasi di depan ribuan jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) yang hari itu berulang tahun ke-75. Adhyaksa mengatakan, penduduk Sulut yang juga terkenal dengan nama tanah Kawanua sering mengumandangkan Torang samua basudara. ”Tapi itu jangan hanya dikatakan di bibir saja,” seru Adhyaksa. Acara puncak ulang tahun GMIM ini juga dihadiri Menteri Kehutanan MS Kaban yang menyerahkan bibit tanaman keras kepada Ketua Umum GMIM Pendeta AO Supit untuk penghijauan di Sulut. Hadir pula SH Sarundajang yang saat ini selain sebagai Gubernur Sulut juga merangkap Pejabat Sementara Wakil Gubernur Sulut, Wali Kota Manado, dan Wakil Wali Kota Manado. Tawuran Di acara GMIM suara cinta membahana, sementara di luar GMIM terdengar informasi tentang perkelahian kaum muda. Selasa (29/9) malam, Adhyaksa hadir dalam diskusi terbuka tentang pemuda yang disiarkan TVRI Manado. Ia tampil bersama Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sulut Fabian Sarundajang. Puluhan orang yang mengikuti acara siaran televisi Manado menyampaikan pendapat dan informasi lewat telepon. Sekitar empat orang memberikan informasi, di Sulut kini sering terjadi tawuran antarkelompok pemuda. Ada pula warga Manado yang mengharapkan agar jabatan-jabatan pimpinan organisasi pemuda di Sulut jangan dikuasai anak-anak pejabat. Harapan itu disanggah Fabian. ”Setiap warga negara punya hak untuk itu,” ujarnya. Adhyaksa berharap undang-undang kepemudaan yang baru bisa mengurangi kemudahan anak pejabat menguasai kursi kepemimpinan di organisasi pemuda. Ia mengatakan, undang-undang kepemudaan juga mensyaratkan usia pemuda di dalam organisasi pemuda, seperti KNPI, antara usia 16 dan 30 tahun. ”Supaya delegasi Indonesia dalam berbagai acara pertemuan pemuda di luar negeri tidak dipanggil halo uncle,” ujar Adhyaksa. (OSD/ZAL) Kompas, Senin, 12 Oktober 2009 | 02:48 WIB |
|
Kemenegpora Minta Atlet dan Ofisial Tetap Waspada |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Wednesday, 08 July 2009 11:54 |
Jakarta - Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora) tetap tidak melarang para atlet dan ofisial bertanding ke luar negeri, namun harus tetap waspada terhadap kemungkinan terserang virus flu babi (H1 N1) dengan menjaga kesehatan.
Kita hanya meminta seluruh atlet dan ofisial yang memperkuat kontingen Indonesia lebih memperhatikan kesehatan, selain juga prestasi, ujar Sekretaris Menegpora Wafid Muharram yang berbicara di depan wartawan mewakili Menegpora yang sedang berada di Australia, Selasa (7/7).
Hal itu dikatakan Wafid menanggapi terjangkitnya seorang ofisial kontingen Indonesia yang berlaga di Asian Youth Games, yang berakhir Minggu (5/7), di Singapura.
Dalam siaran pers yang dikeluarkan Humas KONI Selasa (7/7), FR yang bertugas sebagai Pengawas dan Pengendalian (Wasdal) di Kontingen Indonesia positif terjangkit virus flu babi (H1 NI) dan saat ini sudah dikarantina di Rumah Sakit General Hospital Singapura.
Dikatakan Wafid, pihaknya tidak bisa melarang kepergian seorang atlet bertanding ke luar negeri sehubungan semakin merebaknya virus flu babi di sejumlah negara Asia dan dunia belakangan ini.
Tidak mungkin adanya flu babi kita lantas tidak kirim atlet ke event internasional, apalagi mereka telah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Olahraga tetap jalan terus, paparnya.
Menurutnya, virus tersebut bisa menyerang siapa pun yang kondisi fisiknya jelek dan tidak disiplin dalam mengatur makan dan istirahat, serta tidak mengkonsumsi vitamin yang dianjurkan dokter tim. Kondisi fisik mereka harus dijaga dengan memberikan makanan yang bergizi setiap saat sehingga tidak gampang terserang virus flu babi, tuturnya.
Selain itu, Wafid juga mengingatkan bahwa virus flu babi ini sudah menyebar di berbagai negara termasuk Indonesia, dan bukan hanya di Singapura. Yang terpenting kita harus waspada terhadap kesehatan kita. Ikuti petunjuk dokter tim, ujarnya.
Bukan hanya kondisi kesehatan atlet dan pelatih kontingen Asian Youth Games, tapi Wafid juga meminta kondisi kesehatan anggota Tim Piala Davis Indonesia yang telah bertolak ke Australia mendapat perhatian lebih serius terutama dari segi kesehatan. Saya berharap kondisi kesehatan Tim Piala Davis lebih diperhatikan, paparnya.
Secara terpisah, Abdul Rozak, anggota tim Asian Youth Games yang sudah kembali ke Jakarta menambahkan, penanganan flu babi di luar negeri juga tidak begitu buruk. Para atlet atau ofisial yang demam panasnya diatas 37 derajat celcius, langsung diperiksa dan dikarantina. Jadi, tidak perlu kuatir bepergian ke luar negeri, karena mereka juga punya penanganan secara International dan tidak dipungut biaya, tambahnya.
Sementara itu Wakil Komandan Kontingen Indonesia, Chahya Aziz yang saat ini masih berada di Singapura membenarkan bahwa ofisial tersebut positif terjangkit virus H1 N1 berdasarkan hasil pemeriksaan medis pihak rumah sakit.
Chahya Aziz yang juga menjabat sebagai Wakil Sekjen II KONI ini, mengungkapkan gejala awal yang dirasakan korban adalah demam panas yang cukup tinggi, disertai bersin dan batuk.
Dipaparkan Chahya di kontingen Indonesia ada tim medis Dr. Eny Waluyan. Pada Sabtu (4/7) malam sebelumnya yang bersangkutan mengeluh demam panas dan flu batuk dan sempat diberi obat bahkan disarankan untuk istirahat total.
Karena demamnya tidak kunjung turun, pada 5 Juli kami berkoordinasi dengan petugas medis dari departemen kesehatan Singapura dan dari hasil pemeriksaan FR dinyatakan positif Virus H1 N1, ungkap Chahya.
Sampai saat ini yang bersangkutan, lanjut Chahya Aziz, berada di ruang Isolasi Rumah Sakit General Hospital Singapura. Dia akan berada di ruang tersebut sampai kondisinya benar-benar dinyatakan terbebas dari virus H1 N1.
Pagi tadi saya sempat saling kirim sms dengan dia, dan dia bilang kondisinya sudah semakin membaik hanya saja suhu tubuhnya belum stabil antara 36 hingga 38 derajat Celsius. Butuh waktu sekitar dua minggu untuk memastikan kesembuhannya, ungkapnya. Mengenai biaya perawatan, lanjut Chahya, seluruhnya ditanggung oleh Panitia. Ini berlaku bagi mereka yang terakreditasi sebagai peserta, ujarnya.
Selain FR, rekan satu kamar nya IM juga harus menjalani isolasi di salah satu rumah yang disediakan oleh panitia.
Untuk IM belum dinyatakan terjangkit virus H1 N1, namun sesuai prosedur mereka yang berinteraksi dengan korban pun harus diisolasi sampai batas waktu yang ditentukan, kata Chahya.(anm/alm/msm) |
|
|
Adhyaksa Dault: 2,8 M untuk Kontingen AYG |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Thursday, 25 June 2009 10:47 |
Jakarta - Kantor Kemenegpora (Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga) membantu dana sebesar Rp2,8 Miliar untuk kontingen Indonesia yang akan berlaga pada Asian Youth Games di Singapura, pada 27 Juni-7 Juli 2009.
Kita tetap memberikan bantuan dana, meski seharusnya menjadi tanggungjawab Depdiknas karena atlet yang dikirim usianya di bawah 14 tahun, papar Menegpora Adhyaksa Dault saat menerima kontingen Indonesia yang dipimpin langsung Ketua KON/KOI, Rita Subowo di Jakarta, Rabu (24/6).
Dalam kesempatan tersebut, Adyaksa Dault mengharapkan kontingen Indonesia meraih prestasi maksimal. Meski ini even pertama, saya berharap bisa meraih prestasi terbaik, ujarnya.
Menurut Adhyaksa, para atlet yang diberangkatkan harus mempunyai tekad dan semangat menjadi yang terbaik. Sangat sia-sia. Sudah datang jauh-jauh dan biaya besar, hanya untuk uji coba menghadapi even yang lebih tinggi, tuturnya.
Kontingen Indonesia tanpa mentargetkan apapun di kegiatan multi even pertama Asian Youth Games 2009. Kontingen Merah putih berkekuatan 63 atlet akan mengikuti delapan cabang itu, sebagai uji coba menghadapi Olimpiade Youth Games 2010 di Singapura.
Ketua Kontingen Indonesia, Toho Cholik Muthohir mengatakan, salah satu alasan tanpa target karena ketiadaan dana untuk menggelar Pelatnas.
Pengiriman atlet diserahkan sepenuhnya ke pengurus cabang olahraga untuk mencari atlet-atlet muda terbaiknya sendiri yang akan diterjunkan ke even tersebut, paparnya
Multi event ini digagas oleh International Olimpic Comitte (IOC). Sebanyak sepuluh cabang olahraga diantaranya atletik, sepakbola, layar, bowling, voli pantai, renang, menyelam, tenis meja, basket three on three, dan menembak akan dipertandingan, dan diikuti 32 negara Asia.
Kita tidak kirim cabang sepakbola dan tenis meja. Tenis meja karena ada even diluar, sedangkan sepakbola, terlambat mendaftar, tutur Toho Cholik Mutohir.(anm/alm/sfd) |
|
Menegpora Serahkan Rumah pada Mantan Pegulat |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Monday, 15 June 2009 10:45 |
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora), Adhyaksa Dault, menyerahkan rumah kepada pelatih yang juga mantan atlet gulat nasional, Asmara Dana, pada pembukaan Festival Internasional Pemuda dan Olahraga Bahari (FIPOB), di Pantai Perjuangan Batu Bara, Sumatera Utara, Sabtu (13/6) sore.
Dengan demikian, total perumahan yang diberikan Kantor Kemenegpora kepada atlet dan mantan atlet sudah sekitar 150 rumah dari target 1000 yang akan diberikan secara keseluruhan.
Kita berharap program ini diteruskan menteri-menteri yang mungkin akan menggantikan saya, karena sebentar lagi masa jabatan saya habis, papar Adhyaksa Dault, pada sambutannya saat membuka FIPOB.
Menurut Adhyaksa, FIPOB digelar dalam rangka untuk memperkenalkan daerah wisata laut dan merangkul pemuda Indonesia agar lebih mencintai laut yang merupakan sumber kekayaan alam tiada ternilai harganya. Apalagi, sepertiga dari wilayah Indonesia adalah laut.
Laut itu merupakan sumber kekayaan alam yang tiada ternilainya. Makanya, kita harus bisa merawat dan mempertahankannya. Melalui kegiatan ini lah kita berupaya agar generasi muda kita lebih mencintai laut, paparnya.
Selain itu, lanjutnya, dengan mencintai laut, maka dengan sendirinya generasi muda berperan serta mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Jadi, tidak boleh sejengkal pun tanah Indonesia hilang kembali, termasuk wilayah kelautan Indonesia, yang belakangan ini diusik lagi oleh negara tetangga, tuturnya.
Hal senada juga dilontarkan Deputi Bidang Industri Olahraga, Sudrajat Rasyid, bahwa potensi olahraga perairan Indonesia sangat besar. Sudah saatnya kita lebih memperhatikannya dan menjadikannya sebagai industri olahraga, ujarnya.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pudjo Nugroho mengharapkan, dari pelaksanaan FIPOB ini areal wisata laut Indonesia bisa lebih dikenal dan mengundang investor asing untuk menanamkan modalnya.
Kami berharap melalui pelaksanaan FIPOB Pantai Perjuangan Batu Bara bisa lebih dikenal dan mampu menyedot wisatawan lokal maupun asing, tuturnya.
Festival yang diikuti peserta dari Brunai, Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Filipina, China, Kamboja, Korea Selatan ini juga mendapatkan pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan melibatkan 600 perahu sampan.
Festival yang dibuka secara resmi Adhyaksa Dault dan diihadiri sekitar 50.000 masyarakat di sekitar Pulau Batu Bara juga menampilkan artis-artis ibukota di antaranya Ridho Rhoma Irama, serta berbagai atraksi lainnya antara senam massal yang diikuti sekitar 600 siswa-siswa SD, SMP dan SMA.
Usai membuka FIPOB, Adhyaksa Dault yang mendapat gelar Datuk dari masyarakat Batu Bara dan marga Sembiring, Nasution, Minggu (14/6), mengujungi Pameran Produk Kreatif Wira Usaha Muda di Lapangan Benteng, Medan, yang menampilkan sejumlah atraksi antara lain peragaan busana adat se-Sumatera Utara dan Indonesia, serta para pemuda dari ASEAN dan sejumlah negara Asia.
Tampil dalam pameran itu antara lain produk bola sepak buatan Majalengka yang sudah menembus pasar dunia dan mendapat pengakuan dari Federasi Sepakbola Internasional (FIFA).(alm/msm/anm) |
|
Last Updated on Monday, 15 June 2009 10:46 |
|