Thursday, 09 September 2010
Tokoh Muda Indonesia
Soetanto, Mendidik dan Menggali Kepintaran PDF Print E-mail
Written by oleh Nawa Tungga   
Tuesday, 24 November 2009 09:54
Di balik pencapaian gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang, Ken Kawan Soetanto punya pengalaman penuh liku. ”Apa bisa orang Indonesia mengajar orang Jepang?” begitu ungkapan yang merendahkan dia sewaktu mengajukan diri menjadi dosen di salah satu universitas di Jepang setelah meraih gelar doktor keduanya pada 1988.

Dengan dana beasiswa Pemerintah Jepang dan semangat belajar tinggi, Soetanto, panggilannya, menjadi guru besar di beberapa universitas di Jepang. Di Amerika Serikat, tahun 1988-1993, ia menjadi associate professor di Universitas Drexel dan Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia. Sejak 2005 ia menjadi guru besar Venice International University, Italia.

Keahlian Soetanto bisa ditelusuri dari minat studinya. Keempat gelar doktor dia peroleh di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), ilmu farmasi dari Science University

of Tokyo (2000), dan ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003).

”Sejak 2003 saya memegang rekor gelar empat doktor sekaligus di Jepang,” katanya.

Dari pengembangan interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi, dia menghasilkan 29 paten di Jepang dan 2 paten di AS. Pencapaian riset dengan paten paling mutakhir diakui di Jepang, yakni The Nano-Micro Bubble Contrast Agent. Pemerintah Jepang melalui NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.

”Itu riset smart medicine atau obat cerdas yang mampu menelusuri sistem jaringan pembuluh darah untuk mencari sel-sel kanker dan melumpuhkannya,” kata Soetanto.

Mendidik itu menggali

”Negara tanpa riset akan lemah. Riset harus dikembangkan melalui pendidikan yang baik,” kata Soetanto.

Pemikiran mengenai pendidikan yang baik, menurut Soetanto, kembali pada pengertian to educe, yaitu untuk menggali. Pendidikan itu menggali kemampuan atau kepintaran diri setiap orang. Pendidikan tidak mendiskriminasikan kondisi fisik seseorang dan tidak membatasi kemampuan ekonominya.

Pendidikan untuk menggali kepintaran setiap orang, termasuk orang yang kehilangan semangat belajar atau yang dianggap bodoh. Pendidikan tidak hanya untuk orang kaya. Berdasarkan pengalaman Soetanto mengajar di Jepang, justru orang miskin memiliki kemauan belajar yang lebih tinggi.

”Berapa doktor dari Indonesia yang belajar ke luar negeri dengan membayar mahal, lalu pulang dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa?” sergahnya.

Soetanto dalam menjalankan proses pendidikan di Jepang tidak hanya berteori. Namun, ia berusaha benar-benar menggali kepintaran setiap peserta didik.

Metode Soetanto mengajar di Jepang sempat dikenal sebagai ”metode Soetanto” atau ”efek Soetanto”. Suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih.

”Manusia yang sebelumnya bodoh atau tak memiliki semangat belajar sama sekali harus didaur ulang supaya memiliki motivasi belajar dan bermanfaat bagi sesamanya,” ujarnya.

Pengalaman Soetanto pertama kali mengajar di Jepang adalah di Toin University of Yokohama pada 1993. Di universitas itu, sekitar 80 persen mahasiswa tidak memiliki motivasi belajar yang baik.

”Toin University of Yokohama itu universitas ’kelas bebek’, bukan universitas unggulan, sehingga motivasi belajar para mahasiswanya rendah,” katanya.

Soetanto berhasil mengubah keadaan. Mekanisme pengajarannya untuk pencapaian kesadaran penuh mengenai apa yang sedang dijalani siswa, dan mereka pun mengerti tujuan yang ingin diraih.

Energi tersembunyi

Berbagai penghargaan diterima Soetanto, antara lain Outstanding Achievement Awards in Medicine and Academia dari Pan Asian Association of Greater Philadelphia, AS, tahun 1990.

Ia juga meraih predikat profesor riset terbaik dan profesor mengajar terbaik selama tujuh tahun berturut-turut (1994-2000) di Toin University of Yokohama.

Soetanto termasuk kategori satu di antara tiga pemohon paten paling terkemuka di Jepang. Sejak 2003 dia menjadi guru besar di Universitas Waseda dan menjabat Kepala Divisi Urusan Internasional. Dia juga menjadi orang pertama dari luar Jepang dalam 125 tahun terakhir ini yang diajukan menduduki jabatan setingkat kepala divisi di Universitas Waseda.

Sampai kini lebih dari 1.100 karya ilmiah Soetanto telah dipublikasikan. Dalam menjalani sejumlah aktivitas tersebut, kata Soetanto, ia merasa ada hidden power (energi tersembunyi).

Energi tersembunyi itu

terlahir dari perasaan terhina sebagai orang Indonesia yang masih diremehkan di Jepang. Di Indonesia, Soetanto juga pernah merasakan terbuang.

Tahun 1965, ketika terjadi pergolakan politik menentang komunisme, hak mendapat pendidikan Soetanto terampas. Sekolahnya, Chung-Chung High School di Surabaya, ditutup untuk selamanya. Soetanto hanya menyelesaikan pendidikan sampai kelas I SMA.

Selama tak lagi bersekolah, dia bekerja mereparasi elektronik di toko abangnya di Surabaya. Setelah uang terkumpul, berangkatlah dia ke Jepang tahun 1974 untuk belajar lebih jauh mengenai elektronika.

Pada 1977 Soetanto mengikuti ujian negara di Jepang dan berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian Universitas Tokyo.

 


KEN KAWAN SOETANTO ATAU CHEN WEN QUAN

 

• Lahir: Surabaya, 1951 

• Istri: Jennie Hermanto (58) 

• Anak: - Nerrie (32), Jun Adi (29), Ainie (25) 

• Pendidikan: 

- SD Ta Chung Surabaya (kelas I-II), SD Shi Hwa (kelas II-III), SD Ming Jiang (kelas IV-VI) 
- SMP Chung-Chung - SMA Chung-Chung, sampai kelas I pada 1965 
- 1965-1974 tak bersekolah, bekerja mereparasi produk elektronik
-1974: ke Osaka, Jepang 
- 1977: S-1 Universitas Tokyo, Fakultas Teknik dan Pertanian 
- Meraih doktor di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), doktor dalam ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), doktor ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan doktor ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003) 
- 1988-1993: menjadi associate professor di Drexel University dan School of Medicine, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, AS 
- 1993-kini: guru besar di Toin University of Yokohama, Jepang
 - 1997-kini: Komite Evaluasi Tokyo Institute of Technology 
- 2003-kini: guru besar School of International Liberal Studies di Universitas Waseda

 oleh Nawa Tungga


 
Bambang, Transportasi yang Humanis PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Friday, 21 August 2009 09:59
”Wajah transportasi kita masih karut-marut, padahal transportasi merupakan keseharian. Harus ada kesadaran untuk berpikir dan bertindak bersama karena kondisi transportasi itu ibarat benang kusut dan air yang nyaris keruh,” kata Bambang Susantono.

Dia mengomentari kecelakaan di sektor transportasi yang datang bertubi-tubi. Setelah jatuhnya pesawat latih militer dan tenggelamnya kapal penumpang awal tahun ini, dalam sepekan antara akhir Juli-awal Agustus terjadi lagi musibah jatuhnya pesawat Merpati Nusantara Airlines di Papua, dan tabrakan dua kereta listrik di Bogor, Jawa Barat.

Sebenarnya, banyak konsep dan pemikiran untuk mengatasi keadaan ini, namun kerap terbelenggu aturan birokrasi dan kapasitas institusi yang rendah. Dia menyoroti banyaknya kasus korupsi pada proyek di sektor transportasi.

”Berbagai problem yang menjepit bisa diselesaikan kalau kita konsisten melaksanakan kebijakan dan punya nurani bersih dalam bekerja,” katanya.

Last Updated on Thursday, 05 November 2009 17:31
Read more...
 
Abdullah Gymnastiar Seorang Mubaligh dan Wirausahawan PDF Print E-mail
Written by niamfathun   
Friday, 10 July 2009 18:55
Nama penggagas “Manajemen Kalbu” ini kian melambung sebagai mubaligh. Popularitasnya saat ini menyamai Hamka pada 1970-an dan setara dengan “Dai Sejuta Umat”, Zainudin M.Z., tahun 1980-an. Itulah K.H. Abdullah Gymnastiar, yang lebih senang – dan lebih popular -- dengan panggilan Aa Gym ketimbang kiai, misalnya. Aa adalah cara orang Sunda memendekkan kata ‘kakak’ (abang).

Tampil bersahaja, suka merendah, dan menyejukkan, ceramah-ceramah agamanya di sebuah stasion televisi dan di Masjid Istiqlal, Jakarta, mampu menguras air mata para hadirin. Ia bahkan tak segan-segan mengajak dirinya dan hadirin meneladani bayi dan anak-anak, yang disebutnya bagai “gelas bening, sehingga sebutir debu pun yang menempel padanya bisa terlihat.” Bayi dan anak-anak, katanya “tidak pendendam, rendah hati, dan jujur”.

“Belajarlah dari bayi, yang tak pernah merasa gagal,” katanya dalam bagian ceramahnya berjudul ‘Anak sebagai Lahan Tafakkur’. “Ketika ia belajar berjalan, setiap jatuh ia selalu bangun dan mencoba lagi. Jika ia marah pada temannya, sebentar kemudian akan baikan kembali.” Aa lalu menghubungkannya pertikaian antar sesama saudara di Indonesia, yang tak pernah habis-habisnya memendam dendam.

Aa Gym lahir di Bandung pada 29 Januari 1962, dari pasangan Letkol H. Engkus Kuswara dan Hj. Yeti Rohayati. Meskipun tidak tumbuh di lingkungan pesantren, keluarganya terkenal disiplin dan religius.

Guru agamanya yang pertama adalah adiknya sendiri, Agung Gunmartin, yang cacat, lumpuh, matanya juling, dan telinganya hampir tuli. Yang istimewa, Agung sangat gigih, tetap rajin kuliah dan tak pernah lepas salat wajib dan tahajud. “Meski bernapas saja sulit, dia tetap mendisiplinkan diri untuk ke masjid,” kenangnya. Aa sendiri seorang kakak yang setia, yang rajin menggendong sang adik bila ke masjid dan mendampinginya ketika ke kampus.

Namun lama kelamaan, kesehatan Agung kian memburuk, hingga duduk pun ia sudah tak mampu. Tangannya tidak dapat lagi digerakkan. Namun keadaan itu diterimanya dengan sabar dan tawakkal, tanpa berkeluh-kesah. "Sampai akhirnya dia meninggal di pangkuan saya, " papar Aa Gym dengan mata berkaca-kaca.

Pada usia 20 tahunan, Gymnastiar berguru pada Ajengan Junaedi dari Garut, Jawa Barat. Dan hanya dalam tiga hari, ia oleh gurunya dinyatakan telah memiliki ilmu laduni – yang memberinya kemampuan memahami sesuatu tanpa melalui proses belajar. Menurut Gym, ia sendiri kurang begitu yakin apakah benar ia telah menguasai ilmu tadi. Namun beberapa guru spiritualnya yang lain juga menyatakan bahwa dia telah dikaruniai ma’rifatullah—‘pengetahuan dari Allah’. Seorang di antaranya KH Khoer Affandi, ulama tasawuf terkenal Jawa Barat yang semasa hidupnya memimpin Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya.

“Berkat ilmu itu, saya bisa tiba-tiba tanpa sengaja mengetahui hal-hal baru saat berceramah,” tutur lelaki yang memanggil ‘bos’ kepada lawan bicaranya. Saat materinya dirujuk dengan kitab-kitab tafsir, isinya ternyata tak berbeda.

Pencarian jati diri Aa Gym diwarnai sejumlah peristiwa aneh melalui mimpi, baik yang dialaminya sendiri maupun oleh ibu dan adiknya. Dalam mimpinya, ibunya mendapati Rasulullah sedang mencari seseorang. Sedang adiknya bermimpi melihat Rasulullah mendatangi rumah mereka. Dalam mimpinya sendiri, Aa Gym sempat salat berjamaah bersama Rasulullah dan keempat Sahabat: Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali.

"Saya berdiri di samping Sayidina Ali, sementara Rasulullah bertindak sebagai imam," paparnya. Dalam mimpi sebelumnya, ia merasa didatangi seorang tua berjubah putih bersih, yang mencuci mukanya dengan ekor bulu merak bersaput madu. Dia lalu mengatakan Aa Gym insyaallah akan menjadi orang yang mulia, kelak. Setelah mimpi-mimpi itu, Gymnastiar mulai berguru pada beberapa ulama.

Sebagai kiai, Aa Gym tahu sekali bahwa lebih baik memberi daripada menerima. Maka lelaki yang sejak SMA berjiwa wirausaha ini merintis pembentukan Keluarga Mahasiswa Islam Wiraswasta (KMIW) pada 1987. KMIW membuat dan menjajakan stiker, kaos oblong, gantungan kunci, dan alat tulis menulis yang dibubuhi slogan-slogan religius.

Pada 1990, ia mendirikan Yayasan Pondok Pesantren Daarut Tauhid (DT). Pendirian DT terilhami gerakan Al-Arqam di Malaysia, yang berhasil secara mandiri memenuhi kebutuhan sehari-hari secara Islami. Beberapa waktu kemudian, DT pindah lokasi ke Jalan Gegerkalong Girang 67. Di lokasi rumah pondokan berkamar 20 buah itu, ia menyewa dua kamar. Di sana ia sering mendapat tantangan berat, karena lokasi itu dikenal sebagai markas "biang kerok" keresahan masyarakat. Toh ia kemudian berhasil mengontrak seluruh kamar yang ada, dan bahkan mampu membeli kepemilikannya seharga Rp 100 juta.(anm/alm/msm)
 
Batara Sianturi, Direksi Citibank yang Gemar Berolahraga PDF Print E-mail
Written by niam fathun   
Thursday, 25 June 2009 10:18
Meski memiliki prestasi dan karier cemerlang di industri perbankan, agaknya pria yang senang berolahraga lari dan renang ini belum tertarik melirik perusahaan lain atau menjadi entrepreneur, mengikuti jejak koleganya seperti Barry Lesmana, Th. Wiryawan, Riko Abdurrahman dan Rizka Baely.

Batara Sianturi didaulat masuk dalam jajaran Direksi Citibank Zrt pada pertengahan Desember 2005. Pria kelahiran Jakarta, 26 Juni 1960 ini  menempati posisi Manajer Country Business untuk bisnis consumer Citibank. Dia orang Indonesia pertama yang berhasil mengukir namanya di jajaran direksi Citibank di luar negeri.

Batara yang menggenggam empat gelar kesarjanaan itu sudah 17 tahun bergabung dengan Citigroup. Dia mengawali karier sebagai management trainee tahun 1988 dan mencapai posisi Vice President tahun 1994.

Suami Debbie Tampubolon ini memang cemerlang kariernya di lembaga keuangan asing itu. Posisi Direktur Keuangan dicapai hanya dalam waktu empat tahun (1992) sejak bergabung dengan Citigroup Indonesia. Kariernya melesat setelah mendapat penugasan ke luar negeri di Citibank Australia pada 1995-1996 sebagai General Cross Border Mortgage. Kala di Australia, Batara memegang tanggung jawab yang cukup besar pada penjualan dan pemasaran dari Retail Overseas Residential Property bank tersebut. Cakupan pasarnya adalah Singapura, Hong Kong dan Indonesia.

Sekembali dari Australia, berbagai posisi penting dipercayakan kepadanya. Jabatan Direktur Retail Banking dan Direktur Country Distribution & Sales Citibank Indonesia pernah disandangnnya. Batara pula yang berhasil meningkatkan jaringan dan distribusi Citibank dari hanya 6 cabang menjadi 64 jaringan (54 unit ATM dan 10 cabang).

Di samping itu, bisnis Gold Wealth Management Citibank Indonesia pun meningkat dua kali lipat. Sebelum ke Hongaria, Batara menjabat Direktur Country Marketing (2004-2005) Citibank.

Dengan perjalanan kariernya yang cemerlang itu, pantaslah kantor pusat Citigroup memercayainya untuk menempati posisi penting Citibank di negara lain. Ia adalah orang Indonesia pertama dalam sejarah Citibank yang berhasil menempati posisi puncak di luar negeri. “Saya sebagai ekspatriat disana,” kata Batara. Citibank Hongaria kini memiliki 38 cabang di 19 kota.

Bagaimana prosesnya Batara berhasil menempati posisi tersebut? Batara menjelaskan, Citigroup sebagai pemegang saham Citibank di Hongaria memutuskan siapa yang pantas menjadi anggota direksi. Meskipun begitu, ia juga harus memperoleh persetujuan dari Hungaria Financial Supervisory Authority semacam Departemen Keuangan di sana karena dirinya seorang ekspat.

Pria yang pasih berbahasa Prancis, selain Inggris ini sebenarnya merasa tidak terlalu istimewa melewati masa kanak-kanak dan remajanya. Akan tetapi, memang ia sangat getol belajar. Pilihan sekolahnya pun selalu yang terbaik. Selepas SMP dan SMA di Kanisius, Jakarta, Batara memilih bersekolah ke Amerika Serikat. “Waktu SMP dan SMA tak banyak kegiatan yang saya ikuti. Hanya les piano, serta les bahasa Inggris dan Prancis,” ungkapnya.

Selama 1979-1988, ayah tiga anak ini kuliah di beberapa universitas di AS. Tak heran, ia memiliki empat gelar kesarjanaan: Bachelor of Science Chemical Engineering dan Bachelor of Science Macromolecular Science (1983) dari Case Western Reserve University; Master of Chemical Engineering (1984) dari Stevens Institute of Technology, serta MBA bidang keuangan (1988) dari St. John’s University. “ Saya juga senang mengikuti summer courses seperti di Stanford University,” ujar Batara yang juga menyukai jazz dan membaca.

Baginya, kepuasan dalam menjalani hidup dan karier adalah membangun bisnis dan timnya. Dia mengaku punya kebanggaan tersendiri apabila melihat anak buahnya maju, apalagi bisa menggantikan posisinya.

Menurut Batara, sebagai pemimpin, salah satu tugas yang harus dijalankan dengan baik adalah membangun pemimpin baru.

Ketika ditanya perihal siapa yang paling berperan dalam kariernya, pria yang pernah merentas karier di Polymer Processing Institute, Hoboken, AS sebagai analisis riset, itu menjawab: “Saya pikir kesuksesan seseorang tergantung dari dirinya dan timnya, serta dukungan keluarga dan orangtua.

Wawasan global memang sudah digenggam Batara sejak masih kuliah. Batara juga memiliki keseimbangan sebagai seorang pemimpin. Dari segi kapabilitas intelektual, Batara sangat cukup. a pintar dan selalu mendapat kesempatan penempatan di posisi yang beragam di Citibank.

Batara juga dinilai memiliki komitmen dan disiplin yang tinggi dalam pekerjaan. Ia datang paling pagi dan pulang paling malam, dan tetap dekat dengan anak buahnya. Bahkan, rekannya Djamin Nainggolan, Direktur Pemasaran Kartu Kredit Citibank Indonesia, berkomentar. “Saya rasa 24 jam kerja pun tak cukup bagi Batara,” ujarnya. Menurut Djamin yang mengenal Batara sejak 11 tahun lalu, dia tidak hanya pintar, tapi juga bagus dalam mengelola anak buahnya.

Batara memang orang yang loyal, bahkan mungkin tidak ada orang yang seloyal dia di Citibank. Loyalitasnya, bisa tercermin dari ucapannya: “Selama 17 tahun bekerja bersama Citigroup saya merasa mendapat lingkungan, kesempatan dan motivasi yang bagus sekali untuk karier saya. Apalagi Citigroup adalah perusahana global yang terus menawarkan karier yang dinamis dengan kesempatan berkembang yang profesional.” SWA 9-22 Feb 2006 dan Budabest Business Journal, Hongaria.(alm/sfd)
 
Irwandi Jaswir Peraih Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik PDF Print E-mail
Written by niam fathun   
Thursday, 25 June 2009 09:07
Jakarta - Irwandi Jaswir, alumnus Institut Pertanian Bogor tahun 1993, telah meraih posisi ke-2 dalam Anugerah Saintis Muda Asia Pasifik 2009 di Bangkok.

Irwandi, yang kini berpangkat profesor madya, itu mewakili tempatnya bekerja di Departemen Biotechnology Engineering, International Islamic University Malaysia. Kompetisi prestisius itu diprakarsai oleh Scopus, situs basis data pencarian jurnal ilmiah dan indeks kutipan terbesar di dunia.

Irwandi menjelaskan, tahun ini ada 150 pencalonan dari 23 negara di Asia Pasifik dalam tiga kategori, yaitu bisnis, pertanian dan sumber daya alam, serta teknologi dan engineering. Irwandi berkompetisi di bidang pertanian dan sumber daya alam, katan tokoh muda (38) yang lahir di Medan, Sumatera Utara itu, Sabtu (13/6).

”Penilaian oleh panel juri terdiri dari 3 orang untuk setiap bidang. Mereka adalah para pakar dan profesor berkaliber dunia yang mempunyai rekor karya ilmiah di Scopus,” kata Irwandi.

Setelah disaring, lima finalis setiap kategori diundang untuk mempresentasikan karya serta pencapaian mereka di hadapan para juri di Asian Institute of Technology, Bangkok, awal Juni lalu. Irwandi menjadi satu-satunya finalis orang Indonesia. Finalis lain berasal dari Singapura, Malaysia, Australia, Jepang, China, India, Taiwan, Hongkong, dan Thailand.

Irwandi memiliki catatan 40 karya ilmiah di jurnal internasional serta 60 karya ilmiah di konferensi internasional. Belum lagi puluhan artikel ilmiah populernya di berbagai media massa, serta lima artikel bab buku (book chapter) di buku ilmiah internasional.

Ayah tiga anak yang beristrikan seorang dokter gigi ini telah menerima 23 anugerah sains di tingkat lokal dan internasional, termasuk medali emas di Geneva pada 2006 atas inovasinya dalam metode pendeteksian lemak babi (Kompas, 29/4/2006). Menyelesaikan pendidikan di IPB, Irwandi meraih S-2 (1994-199) dari Universitas Pertanian Malaysia serta S-3 (1997-2000) dari UPM dan The University of British Columbia, Kanada.(anm/alm/msm)
Last Updated on Thursday, 25 June 2009 09:08
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 1 of 10