Thursday, 09 September 2010
Tokoh Olahraga
Carlos Tevez, Mesin Gol City PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Wednesday, 30 December 2009 10:26
Manchester City bersinar lagi setelah ditukangi Roberto Mancini. Dua kemenangan didulang mereka sejak Mancini menggantikan Mark Hughes. Kemenangan pertama diraih City saat mengungguli Stoke City 2-0 dan kemenangan kedua terjadi pada Senin lalu saat menghajar Wolverhampton Wanderers 3-0. Ditambahkan dengan kemenangan atas Sunderland 4-3, yang diraih City dalam pertandingan terakhir bersama Hughes, klub ini sudah menang tiga kali berturut-turut.

Terlepas dari kepiawaian Mancini dalam meracik strategi, Tevez tampil cukup menggembirakan dalam laga melawan Wolverhampton. Dari tiga gol City, dua gol di antaranya dicetak Carlos Tevez. Penyerang asal Argentina ini menggetarkan jala gawang Wolverhampton pada menit ke-33 dan menit ke-86.

Pada Sabtu pekan lalu, ketika menghadapi Stoke, Tevez mencetak satu dari dua gol yang diproduksi City. Tevez juga memberikan kontribusi satu gol lewat tendangan penalti ketika City bertemu dengan Sunderland dan menang 4-3.

Dari tujuh pertandingan yang dijalaninya, Tevez kini mengoleksi sembilan gol. Hasil ini membuat Tevez, bersama dengan pemain Arsenal, Cesc Fabregas, berada di urutan ketujuh daftar pencetak gol terbanyak Liga Primer Inggris. Jermain Defoe (Tottenham Hotspur) dan penyerang Chelsea, Dider Drogba, sama-sama berada di puncak dengan koleksi 14 gol.

Bergabung dengan City pada Juli 2009, Tevez ditransfer seharga 47 juta poundsterling atau hampir Rp 714 miliar. Angka ini merupakan rekor di tanah Inggris. Masuknya Tevez merupakan bagian dari ambisi City menembus empat besar Liga Primer sejak mereka dikuasai investor asal Timur Tengah.

Tevez lahir di Ciudadela, sebuah wilayah di Buenos Aires, Argentina, pada 5 Februari 1984. Setelah itu, perjalanan hidup Tevez merupakan kisah khas kebanyakan bocah di Argentina. Lewat sepak bola, Tevez memperbaiki nasib. Ia meninggalkan tempat tinggalnya yang merupakan perkampungan pekerja.

Sejak masih bermain di jalan-jalan di Buenos Aires, Tevez sudah memperlihatkan keberanian dan ketajamannya dalam menyerang. Ia lantas mendapat kesempatan mengembangkan bakat dengan bergabung bersama klub lokal All Boys. Tevez yang cemerlang lantas dilirik Boca Juniors. Bersama klub ini, Tevez, dalam usia 17 tahun, mencicipi ketatnya persaingan di Divisi Utama Argentina.

Tevez mengakhiri kontrak dengan Boca Juniors pada 2004. Pria yang lehernya terbakar saat masih kecil ini kemudian bergabung dengan Corinthians. Dua tahun bersama Corinthians, Tevez hijrah ke tanah Inggris. Kariernya di negeri Ratu Elizabeth II ini diawali bersama West Ham United pada 2006. Setahun kemudian, Tevez mendapat kesempatan luar biasa. Ia direkrut klub raksasa Manchester United. Hingga ketika meninggalkan Old Trafford, Tevez mencetak 19 gol untuk MU.

Bersama City, Tevez pun memulai babak baru. Ia berkesempatan ikut membesarkan City, klub dengan darah baru yang sangat haus akan trofi juara. (ato)

Kompas, Rabu, 30 Desember 2009

 
CHRIS JOHN; Pengin Melatih Petinju Muda PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Friday, 09 October 2009 09:11

Apakah Anda telah memikirkan masa depan Anda setelah pensiun dari tinju? Perlu diingat pengalaman petinju kita Ellyas Pical adalah sebuah barometer betapa tak dihargainya hari tua olahragawan di Indonesia. Semoga Anda telah memikirkannya, (Widjaja Prawira, Bogor, dan Surya, Jakarta)

Saya setuju dengan pendapat Anda. Makanya saya mulai memikirkan masa depan saya setelah pensiun nantinya. Saat ini saya sudah ada usaha kecil-kecilan sih. Mudah-mudahan nanti bisa memiliki usaha yang lebih baik.

Sepengamatan saya, stamina Chris John saat duel ulang melawan Rocky Juarez lebih merosot dari pertandingan pertama. Benarkah demikian? Apa yang terjadi? (Roy, Jakarta)

Persiapan saya melawan Juarez cukup baik. Kami juga sempat berlatih di Pegunungan Big Bear. Saya rasa Juarez juga mempersiapkan diri. Dilihat dari pertandingannya, dia memiliki stamina yang sangat baik. Saat ini saya cocok dengan pelatih dan manajer saya. Hal ini sangat penting buat atlet.

Chris John, Anda adalah legenda hidup, sopan santun, ramah, dan tidak sombong menjadi ciri khas Anda sebagai seorang petinju profesional. Pertandingan dengan siapakah yang menjadi tantangan paling berat dalam karier Anda? (Franko Nero, Yogyakarta)

Buat saya, pertarungan terberat saat menghadapi Juan Manuel Marques (Meksiko) saat bertanding di Kalimantan Timur. Dia berpengalaman dan pukulannya sangat cepat dan akurat. Tetapi saya sempat terpukul jatuh sampai 2 kali dan hidung patah tulang rawan saat menghadapi almarhum Alfaridzie ketika merebut gelar juara nasional.

Saya bangga dengan Chris John. Selain mengharumkan nama bangsa. Apa rahasia sukses Chris John? (Jamalum Sinambela, Deli Serdang)

Saya berusaha bekerja keras, berlatih maksimal; belajar memperbaiki kekurangan atau belajar teknik baru serta fokus pada pekerjaan saya sebagai petinju; fokus dan mencintai pekerjaan saya sebagai seorang petinju serta menyempurnakannya dengan doa. Ora et labora.

Aku jelas bangga jadi warga Banjarnegara, sama-sama dari Rakit lagi, wuiih... jan banggane pol-polan!!! Oh ya, kenapa si Om John kalau pulang ke Rakit masih sering pakai bus umum? Terus kapan nih mau mendirikan sasana tinju di Banjarnegara Gilar Gilar kota kita tercinta? Masih sering main wushu gak ya. (Nurfahmi Budi, Banjarnegara, Jawa Tengah)

Iya, dulu sebelum juara dunia (masih kere) kalau pulang kampung masih pake bus umum. Sekarang berkat Tuhan bisa pakai mobil sendiri. Mudah-mudahan setelah gantung sarung tinju pasti saya memikirkan untuk menyalurkan ilmu saya buat teman- teman yang berbakat tinju. Kini saya tak bertanding wushu lagi karena sudah harus benar-benar fokus di tinju.

Anda tidak memiliki killing punch yang sangat diperlukan oleh seorang juara tinju. Apakah Anda dan pelatih tidak mencari metode untuk meningkatkan kemampuan dalam hal ini? (A Agust Subagio, Kebayoran)

Kita juga melatih killing punch. Tetapi saat bertanding ada beberapa faktor yang bisa untuk menjatuhkan lawan. Salah satu yang paling penting adalah timing untuk memukul saat lawan benar-benar lengah dan menjatuhkannya.

Bagaimanakah Om Chris mengalahkan rasa takut saat menjelang pertandingan? (Vincentius BK, Semarang)

Rasa takut saya pikir adalah perasaan normal atlet tinju sebelum bertanding. Sebelum bertanding ada bermacam pikiran campur aduk. Biasanya saya lebih suka bercanda dengan pelatih atau mendengarkan lagu-lagu favorit dan bernyanyi untuk mengurangi rasa takut atau grogi.

Bisakah Anda menambah power pukulan dan speed pukulan ketika naik kelas untuk menantang para jawara di sana, seperti Manny Packo, Foyd M, ataupun yang lainnya. (Roziq, Tangerang)

Pelatih saya pasti mempunyai cara berlatih khusus bila saya naik berat dan bertanding di kelas lebih atas. Misalnya, menambah latihan beban.

Setelah beberapa kali mempertahankan gelar dan tidak pernah kalah, apalagi Anda sudah bertanding di pusatnya bisnis tinju dunia yang dipromotori oleh Golden Boy Promotions, mengapa Anda tidak menantang Mr Pacman yang juga berasal dari Asia Tenggara atau berusaha menyatukan gelar kelas bulu dari badan tinju dunia yang lain? (Heri Kartono, Doha, State of Qatar)

Saat ini Pacman sudah tidak di kelas bulu (saya kini, juara di kelas bulu). Saya yakin pelatih dan manajer saya memikirkan yang terbaik buat saya ke depan. Penyatuan gelar juga sudah kami pikirkan. Mudah-mudahan bisa terwujud.

Apakah akan melakukan program latihan untuk meningkatkan bobot pukulan Anda sehingga bisa menang KO dalam pertandingan berikutnya? Kapan Anda pensiun? (Resta Palulun, Jakarta)

Di setiap latihan kita tetap melatih bobot pukulan. Tetapi di saat bertanding ada beberapa faktor untuk bisa membuat jatuh lawan, biar bobot pukulan keras, tetapi timing tidak pas yah juga belum bisa membuat lawan terjatuh. Saya merencanakan pensiun sebelum usia saya 35 tahun. Saat ini saya berusia 30 tahun.

Saya kagum dengan sikap rendah hati Anda selama ini walau Anda sudah mencapai puncak karier internasional. Umumnya atlet-atlet nasional kita jatuh karena kesombongannya sendiri. (Hadi Hardjono, Tebet, Jakarta)

Saya berpikir, tidak ada untungnya bersikap angkuh, sombong, dan tinggi hati. Sikap seperti itu tidak disenangi orang lain dan bisa membuat kita lupa diri serta berpengaruh pada kesiapan kita sebagai atlet. Buat saya kesadaran diri adalah kunci buat saya untuk selalu rendah hati.

Pernahkah Anda merasa jenuh di kelas bulu? Ada rencana untuk pindah kelas? (Adrian Hernando, Cirebon)

Rasa jenuh untuk tetap di kelas bulu tidak ada. Saya menyadari kemampuan saya. Mungkin, bila naik kelas belum tentu bisa bersaing dengan petinju yang kelasnya lebih atas itu. Semua butuh pengertian matang.

Semua pukulan petinju mengarah ke kepala dan dagu Bang Chris. Enggak takut terkena penyakit saraf? (Yensi Madarani, Bintaro)

Perasaan takut kerusakan di saraf saya pasti ada. Tidak bisa dimungkiri, tinju memang berisiko itu. Saya berusaha menjaga sebisa mungkin untuk mengurangi risiko kerusakan saraf itu dengan berbagai informasi. Semua pekerjaan ada risiko masing-masing.

Sebenarnya kelainan darah apa yang Anda alami sehingga membuat Anda pingsan dan pertandingan dengan Juarez (Juli 2009) dibatalkan? Apakah akan berpengaruh pada karier Anda? (Sopian Hadi, Desa Nyelanding Bangka)

Saat itu, ada kelainan di dalam darah saya sehingga membuat darah saya agak kesulitan menyerap oksigen. Padahal, saat bertanding saya membutuhkan penyerapan oksigen yang besar. Makanya kita minta mundur sampai kondisi benar-benar pulih.

Anda sangat membanggakan bangsa Indonesia, tetapi ada satu hal yang mengganjal dan ingin saya tanyakan: Dalam setiap pertandingan, stamina Anda sangat baik, tapi pukulan Anda terlihat kurang keras sehingga lawan jarang tergoyahkan. Bagaimanapun Anda adalah kebanggaan bangsa Indonesia. God bless Chris John. (M Endra Runy, Bekasi)

Saya selalu dilatih meningkatkan kekerasan pukulan. Tetapi, menurut saya, selain bakat masing-masing petinju juga ada beberapa faktor untuk membuat lawan jatuh. Jadi tidak hanya semata-mata soal killing punch aja. God bless you.

Impian apa yang belum Anda raih semenjak kecil? Ketakutan terbesar Anda itu bila terjadi apa? Apa yang telah Anda lakukan bila sudah pensiun? (Akhmad ”BaQi” Bakhtiar, Cipinang Jaya, Jakarta)

Impian saya dari kecil untuk menjadi juara dunia sudah tercapai. Ketakutan terbesar ialah terjadinya cedera di bagian saraf atau otak yang tidak bisa dimungkiri itu adalah ancaman terbesar bagi para petinju. Saya berusaha untuk membuat suatu usaha di luar tinju untuk persiapan setelah saya pensiun bertinju. Juga, tidak menutup keinginan juga saya ingin melatih para petinju muda nantinya. (ush)

Kompas, Jumat, 9 Oktober 2009 | 03:38 WIB

Last Updated on Friday, 09 October 2009 09:17
 
BULU TANGKIS; Linda Kalah Setelah Beri Perlawanan Ketat PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Thursday, 20 August 2009 14:55
Makau, Rabu - Setelah lolos dari babak kualifikasi, tunggal putri pelatnas Indonesia, Linda Wenifanetri, langsung berhadapan dengan unggulan teratas Zhou Mi pada babak pertama Turnamen Grand Prix di Makau, Rabu (19/8). Tak diduga, Linda memberi perlawanan tangguh meski akhirnya kalah.

Linda kalah dalam pertandingan tiga game yang berlangsung 1 jam 5 menit, dengan skor 21-18, 19-21, 15-21. Pertandingan ini menjadi salah satu dari lima partai yang berlangsung lebih dari satu jam.

Dalam situs yang memperlihatkan livescore pertandingan, Linda memenangi game pertama setelah tertinggal lebih dulu 8-13. Setelah tertinggal lima angka, secara perlahan Linda menyamai perolehan angka Zhou Mi. Begitu skor imbang 16-16, Linda bahkan melejit meninggalkan perolehan angka pemain Hongkong tersebut.

Pada game kedua, perolehan angka kedua pemain tak pernah berselisih lebih dari empat angka. Linda membuka peluang menang ketika menyamakan angka 18-18 setelah tertinggal lebih dulu 15-18.

Akan tetapi, Zhou Mi—yang jauh lebih unggul dalam pengalaman bertanding di turnamen besar—berhasil keluar dari tekanan. Di game ketiga, permainan imbang hanya berjalan hingga skor 6-6. Setelah itu, Zhou Mi tampil dominan melalui smes dan permainan net.

Linda menjadi satu-satunya wakil Indonesia yang lolos dari babak kualifikasi setelah empat wakil lain tersingkir.

Perlawanan tiga game juga diberikan ganda campuran Fran Kurniawan/Pia Zebadiah atas unggulan pertama He Hanbin/Yu Yang. Namun, seperti Linda, Fran/Pia harus tersingkir di pertandingan awal karena kalah dari pasangan asal China tersebut, 14-21, 21-16, 7-21.

Kekalahan juga dialami pemain pelatnas lainnya di nomor ganda putra, yaitu Fernando Kurniawan/Lingga Lie. Fernando/Lingga harus mengakui keunggulan Chai Biao/Zhang Nan (China) 22-24, 17-21.

Fernando/Lingga sebenarnya mampu membuat tiga kali game point pada game pertama sejak skor 20-18 dan 21-20. Namun, kesempatan ini gagal dimanfaatkan ganda nomor empat pelatnas tersebut.

”Tiba-tiba kehilangan konsentrasi, tidak tahu kenapa,” ujar Fernando, yang akan bertanding di Taiwan pada pekan depan bersama pemain Indonesia lainnya.

Di game kedua, Fernando/ Lingga kalah ketika lawan merebut empat poin berturut-turut setelah skor imbang 17-17.

Dengan tersingkirnya Linda, Fran/Pia, dan Fernando/Lingga, pelatnas tinggal menumpukan harapan kepada ganda putra Wifqi Windarto/Afiat Yuris Wirawan dan Anneke Feinya Agustine/Annisa Wahyuni (ganda putri).

Unggulan bertahan

Sementara itu, kemenangan diperoleh pemain-pemain unggulan, seperti Taufik Hidayat yang menjadi unggulan ketiga tunggal putra. Taufik, yang menjadi semifinalis kejuaraan dunia, menang atas Suppanyu Avihingsanon (Thailand) 21-14, 21-13.

Selain Taufik, dua unggulan teratas tunggal putra juga melangkah ke babak ketiga. Mereka adalah unggulan pertama Lee Chong Wei (Malaysia) dan finalis Kejuaraan Dunia 2009 yang menjadi unggulan kedua, Chen Jin (China).

Di tunggal putri, selain Zhou Mi, kemenangan juga diraih pemain-pemain China, seperti juara dunia Lu Lan, Wang Yihan, dan Jiang Yanjiao. (iya)

 
Syamsul Anwar Harahap, Dibalik Ketangguhannya PDF Print E-mail
Written by niamfathun   
Friday, 10 July 2009 18:40
Ia pernah dijuluki ''bulldozer ring''. Padahal, sebelumnya, ''Saya tidak pernah memimpikannya,'' tutur anak kedua dari enam bersaudara ini. Ketika di SD, tangan kanannya lumpuh: sampai sekarang tangan itu tetap lebih kecil dari yang kiri.

Ia kemudian berjualan es lilin dan koran, ''Untuk melatih tangan saya bergerak,'' katanya. Ayahnya, Bisman Harahap, juru ukur di dinas PU Pematangsiantar, Sumatera Utara. Orang pertama yang melatih Syamsul bertinju ialah pamannya sendiri, Paruhum Siregar.

Yang paling berjasa menumbuhkan rasa percaya diri, menurut Syamsul, adalah ibunya. ''Beliau seorang motivator,'' ujarnya. ''Hampir tiap malam, Ibu bercerita tentang orang besar.'' Misalnya, Whilma Rudolf, pelari maraton Olympiade Roma 1960, yang semula juga penderita polio, dan kakinya lumpuh.

Selama 14 tahun sebagai petinju, sejak 1968, ia 129 kali bertanding, dan cuma kalah 16 kali. Prestasinya, antara lain: juara Asia 1975 di Jepang, juara turnamen Piala Presiden RI sekaligus petinju terbaik 1976. Untuk kedua kalinya, ia juara Asia 1977 di India. Dari pemerintah RI, ia menerima penghargaan sebagai olahragawan terbaik 1978.Lulusan ASMI, 1977, ini pernah menolak bayaran US$ 1 juta untuk tiga kali pertandingan di AS. ''Saya tidak mau menjadi petinju bayaran,'' katanya. Tawaran itu datang karena Syamsul pernah meng-KO petinju AS, Thomas Hearn, yang kini juara dunia kelas welter ringan versi WBA. Ia pernah menjadi karyawan Pertamina, kini, manajer produksi perusahaan sepatu Bata ini juga kolumnis harian Kompas, dan Jakarta Pos. Di televisi, ia pernah mengisi acara Arena & Juara.

Banyak orang meminta dia menjadi pelatih. Tapi, ''saya, masih muda, dan sering dipengaruhi emosi,'' ujarnya. ''Lagi pula tak tahu ilmu mendidik.''

Menyunting putri Solo, Eksi Woto Andayani, Syamsul kini ayah dua anak.(anm/alm/msm)
 
Djoko Pramono, Tepat Sasaran PDF Print E-mail
Written by niam fathun   
Wednesday, 08 July 2009 11:49
Jakarta - Pembinaan olahraga nasional harus tepat sasaran pada pemerintahan baru lima tahun mendatang, kata Ketua Komisi Sport Development Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Pusat, Djoko Pramono di Jakarta, Selasa (7/7).

Djoko mengatakan, peran organisasi olahraga saat ini hingga tingkat kementerian harus jelas sehingga pembinaan atlet olahraga di Indonesia tidak membingungkan.

Misalnya tingkat kementerian pemuda dan olahraga malah turun sampai tingkat operasional, padahal peran mereka adalah pembuat regulasi, katanya.

Djoko mencontohkan, peran organisasi yang membuat rancu itu terjadi saat Menegpora membentuk satuan tugas (Satgas) olahraga dengan memanggil induk organisasi atau pengurus besar.

Kemudian pembentukan pemusatan pelatihan nasional (pelatnas) dan program atlet andalan (PAL) yang menuai kritik dari kalangan atlet dan pengurusnya, ujarnya.

Jika tidak tepat sasaran akan menimbulkan kecemburuan antar sesama atlet, padahal mereka sama-sama membela Merah Putih, ujarnya.

Djoko menegaskan jangan sampai atlet pelatnas mempunyai motivasi hanya untuk memperoleh bayaran saja sehingga mereka ingin menyaingi atlet binaan PAL yang mempunyai gaji lebih besar.

Ia juga menjelaskan perbedaan peran KONI maupun peran Mennegpora dalam mengembangkan olahraga sehingga tidak terjadi tumpang tindih pada peran dan tanggung jawab kedua lembaga tersebut.

Djoko mengatakan Menteri Olahraga bertugas membuat kebijakan yang berkaitan dengan masalah olahraga, sementara KONI adalah organisasi yang mengkoordinasikan dan membina kegiatan olahraga prestasi sehingga yang diperlukan dari Menpora adalah kebijakan yang menunjang perkembangan olahraga.

Djoko berharap pada pemerintahan baru nanti, Menpora tidak menghapus keberadaan olahraga dari Pendidikan Nasional (Diknas) karena selama ini mereka yang melakukan pembibitan atlet.(anm/alm/sfd)
 
«StartPrev123456789NextEnd»

Page 1 of 9