|
PON Tenis Merentang Harapan Prestasi |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Wednesday, 08 July 2009 11:53 |
Di tengah keterpurukan prestasi para atlet Indonesia di kancah internasional, PP Pelti menggelar Pekan Olahraga Nasional (PON) Tenis untuk pertama kalinya sebagai satu upaya mendongkrak prestasi.
PON tenis dimaksudkan sebagai jendela untuk melihat sejauh mana hasil pembinaan para petenis di daerah selama ini, sekaligus mencoba mencarikan solusi terbaik dari berbagai permasalahan yang dihadapi.
Sekitar 800-an petenis dari 28 Propinsi mulai dari usia kanak-kanak hingga veteran dihadirkan dalam wadah kompetisi yang mempertandingkan segala kelompok umur dari mini tenis, junior, senior (umum) dan veteran dengan di tengah-tengahnya disisipkan Turnamen Sportama yang merupakan ajang pertarungan para petenis prestasi dan profesional.
Semua penyelenggaraan kompetisi menyuguhkan berbagai nuansa dan permasalahan. Pelti dapat melihat permasalahan yang dihadapi daerah, termasuk kelemahan-kelemahan dalam sistem pembinaan.
Daerah pun dapat membuka mata, seperti apa sistem pembinaan dan pelatihan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota besar lain di luar pulau Jawa sebagai bahan perbandingan.
Kesepahaman dalam mengaplikasikan teori bagi para pelatih terhadap petenis, merupakan suatu kondisi yang sangat menentukan prestasi atlet. Instruktur yang sama, belum tentu dapat dipahami secara sama oleh pelatih yang berbeda.
Begitupun pemain, belum tentu dapat memahami sepenuhnya apa yang diberikan pelatih yang mencakup fisiologis, teknik, skill, bakat (talent), psikologis dan pembinaan mentalitas pemain.
Pemaksaan prestasi bagi atlet junior, dapat dipersalahkan menimbulkan cedera mengingat struktur fisik antara tulang dan otot petenis usia 6 sampai 13 tahun akan berbeda dengan fisik pemain yang sudah menginjak usia 18 sampai 26 tahunan yang disebut-sebut sebagai masa emas.
Prestasi yang diukir para pemain mini tenis atau pun pemain junior, memang dibutuhkan sebagai alat ukur. Tetapi dalam struktur pembinaan secara menyeluruh, seluruh komponen sistem pembinaan harus dilaksanakan sesuai kondisi usia petenis, yang pada gilirannya menciptakan petenis berprestasi di kala usia menginjak 18 tahun keatas.
Dalam tatanan kompetisi, Pelti dan seluruh peminat tenis patut menyadari betapa pentingnya arti sebuah kompetisi yang berjalan rutin. Tetapi banyaknya kompetisi yang bergulir pun akan mubazir bila prestasi petenis tak berlanjut ke jenjang internasional yang dapat membanggakan bangsa di mata dunia.
Olahraga tenis memiliki tatanan tersendiri dalam mengatur kompetisi internasional. Sistem poin by poin dan ranking yang diterapkan Federasi Tenis Internasional (ITF) atau pun Asosiasi Tenis Profesional Putri (WTA) dan Asosiasi Tenis Profesional Putra (ATP) sesungguhnya sudah sempurna.
Patut diakui bahwa Indonesia yang berpenduduk sekitar 230 juta jiwa masih miskin dengan petenis yang dapat dikategorikan kelas dunia karena minimnya petenis yang memiliki ranking ITF, WTA atau ATP.
Ketertinggalan ini patut dicermati dengan seksama, dengan keberanian Pelti dan berbagai sponsor dan kepedulian pemerintah untuk menggelar turnamen berskala internasional, dimulai dengan hadiah total 10.000 dolar AS dalam kemasan Sirkuit atau Future, kemudian ke level lebih tinggi.
Sama dengan kebanyakan cabang-cabang olahraga lain, tenis pun akan dirasa percuma memiliki kompetisi rutin dan teratur jika tak mampu menghasilkan pemain-pemain handal ke jenjang internasional sebagai cermin prestasi suatu bangsa.
Daerah-daerah yang berhasil menyabet medali emas terbanyak wajar berbangga dengan raihan prestasi di ajang PON Tenis. Tetapi semua unsur terkait harus mulai melakukan terobosan agar prestasi tidak menjadi sia-sia.
Kontingen DKI Jakarta unggul dalam pengumpulan 18 medali. Sementara daerah-daerah lain yang masih kebagian medali atau tak kebagian sama sekali menunjukkan fakta itulah hasil pembinaan dan permasalahan mereka selama ini. Pendek kata, PON Tenis telah menguak tabir.
Berbagai kekurangan di daerah patut disadari semua pihak. Berbagai kelebihan sarana dan prasarana di kota-kota besar harus disosialisasikan ke daerah-daerah. Dengan melihat struktur perolehan medali, kita dapat melihat peta kekuatan dan iklim pembinaan daerah.
Pasca penyelenggaraan PON Tenis kita pun dapat merentang harapan untuk berbuat lebih baik di masa datang, termasuk penyempurnaan nama kejuaraan, sistem kepanitiaan dan kehandalan sumber daya manusia di kepanitiaan dan seluruh unsur pelaksana pertandingan.
Berbagai kekurangan dalam pelaksanaan PON Tenis, terutama alur informasi hasil pertandingan yang harus aktual dan valid, mencerminkan perlunya kesempurnaan SDM panitia penyelenggara.(anm/alm/sfd) |
|
Belum Ada Pengganti Taufik dan Nova |
|
|
|
|
Written by niamfathun
|
|
Wednesday, 01 July 2009 11:57 |
Pontianak - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI), Jenderal TNI Djoko Santoso, mengatakan olah raga bulutangkis di Indonesia, kini sedang mengalami vakum atau tanpa kegiatan, sehingga berdampak pada turunnya prestasi baik tingkat nasional maupun internasional. "Kevakuman terjadi karena mata rantai pencarian atlet bulutangkis kita ada yang terputus," kata Djoko Santoso, usai melantik Pengurus Provinsi PBSI Kalimantan Barat, di Pontianak, Selasa.
Untuk itu, ia meminta semua Pengprov seluruh Indonesia membantu PBSI dalam pencarian bibit atlet bulutangkis yang punya kemampuan. "Dalam kepengurusan PB PBSI periode 2008-2012 kita mempunyai visi meningkatkan prestasi bulutangkis di tingkat internasional," katanya. Djoko menjelaskan, masa kevakuman bulutangkis dimaksudkan banyak pemain bulutangkis Indonesia, seperti Taufik Hidayat, Nova Widianto, Liliana Natsir, Windu Hanggoro, yang prestasinya sudah jauh menurun sehingga perlu dicarikan atlet pengganti. Sementara atlet bulutangkis level kedua Indonesia, seperti Tommy Sugiarto dan teman-teman hingga saat ini masih belum bisa menunjukkan prestasi di kancah internasional. "Untuk level ketiga kita baru tahap mempersiapkan bibit-bibit atlet baru pengganti pemain senior di masa mendatang," ujarnya. Langkah pendek PBSI hingga saat ini tetap mempertahankan atlet senior sampai batas waktu tertentu secara maksimal. "Langkah untuk meningkatkan atlet level dua selanjutnya yaitu memberikan pengalaman kepada atlet itu dengan mengikutsertakan mereka pada kejuaraan nasional dan internasional," katanya. Djoko mengatakan, saat ini PBSI sedang melakukan pelatihan dasar kepada sebanyak 39 orang atlet level tiga di Akademi Militer selama enam bulan. "Sekarang mereka baru latihan selama dua bulan, alasan dilakukan pelatihan di Akmil agar para atlet tersebut nantinya punya kedisiplinan yang tinggi, dan punya patriotisme dan semangat untuk berprestasi," kata Djoko.
Sementara target perolehan mendali di SEA Games 2009 Desember di Laos, PBSI menargetkan memperoleh mendali emas sebanyak-banyaknya. "Terutama untuk pasangan ganda putra dan perorangan putra," katanya.(anm/alm/sfd) |
|
Last Updated on Wednesday, 01 July 2009 11:58 |
|
|
Utut Adianto: Catur di Kampus Mati Suri |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Thursday, 25 June 2009 09:22 |
Jakarta - Grand Master (GM) Utut Adianto mengatakan kegiatan catur di dalam kampus sejak tahun 1990-an mati suri akibat rutinitas mahasiswa yang lebih fokus pada SKS (satuan kredit semester).
"Tahun 1990-an mahasiswa cenderung mengejar SKS, sehingga kegiatan sosial, termasuk catur, diabaikan," kata Utut dalam sambutannya saat penutupan Kejurnas Catur Mahasiswa 2009 di Gedung Dikti Gelora Bung Karno Jakarta, Rabu (24/6), malam.
Turut hadir dalam acara itu Dirjen Dikti Depdiknas Fasli Djalal, Ketua Umum PB Percasi Edi Widyono, dan sejumlah pengurus PB Percasi lainnya.
Utut mengatakan, Kejurnas Catur Mahasiswa diharapkan menggairahkan kembali catur di kampus yang sempat mati suri tersebut. Berbeda dengan era tahun 1980-an saat Utut masih menjadi mahasiswa. Saat itu katanya catur masih bergairah.
"Beda dengan tahun 1980-an, kami selesai mau kemana juga," katanya.
Dia berharap agar setiap kampus yang ada di Indonesia menghidupkan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) catur sehingga kegiatan catur berupa lomba bisa lebih banyak lagi.
Dia juga mengaku bangga melihat Kejurnas Mahasiswa yang diikuti 274 mahasiswa dari 76 perguruan tinggi negeri dan swasta. Apalagi pertandingan tersebut sudah menggunakan display layar lebar.
"Ini pertama pertandingan yang saya lihat sudah menggunakan display, sudah sama dengan pertandingan internasional yang diikuti oleh para grand master di dunia," kata Utut memuji.
Dirjen Dikti Fasli Djalal mengatakan, Dirjen Dikti mengalokasikan dana sebesar Rp1 miliar untuk seluruh kegiatan UKM termasuk catur di seluruh perguruan tinggi. Dia meminta agar perguruan tinggi seluruh Indonesia yang belum memiliki UKM catur segera mendirikan UKM.
"Untuk perguruan tinggi swasta kita dukung lewat kopertis," kata Fasli.
Menurutnya total mahasiswa di Indonesia saat ini sebanyak 4,5 juta orang yang tersebar di 2900 perguruan tinggi. Jika seluruh kampus menggelar kejuaraan di internal masing-masing, maka tidak sedikit pecatur yang dihasilkan dari kampus.
Esensi filsafat catur katanya dapat membuat seseorang sabar dan fokus. Selain itu juga pelajaran dalam menyelesaikan masalah.
Kejurnas catur mahasiswa 2009 ditutup Rabu malam oleh Dirjen Dikti Fasli Djalal. Sebelumnya acara ini direncanakan akan ditutup Ketua Umum Koni Rita Subowo. Namun hingga penutupan berlangsung Rita tidak datang karena sedang di luar daerah.
Pemenang yang berhasil lolos pada Kejurnas tersebut langsung menerima piala dan uang tunai dari Menpora, Koni, Dirjen Dikti dan PB Percasi.
Pemenang pertama beregu putra/putri mendapat bonus Rp15 juta. Juara II Rp7,5 juta. Juara III Rp5 juta. Juara IV Rp3 juta. Juara V Rp2 juta. Juara VI s/d 10 Rp1 juta.
Juara satu perorang putra/putri Rp7,5 juta. Juara II Rp 4 juta. Juara III Rp3 juta. Juara IV dan V Rp 2 juta. Juara VI s/d X Rp1 juta dan juara XI s/d XX Rp500 ribu.(anm/alm/msm) |
|
Junaidi: Timnas Bisa Imbangi MU |
|
|
|
|
Written by niam fathun
|
|
Tuesday, 23 June 2009 10:07 |
Jakarta - Mantan pemain nasional Junaidi Abdillah (61) yakin tim Indonesia All Stars akan mampu mengimbangi Manchester United Inggris dalam laga persahabatan 20 Juli mendatang.
Saya yakin pertandingan itu akan imbang. Tim kita akan mampu mengimbangi permainan MU, ujar Junaidi Abdillah di Jakarta, Senin (22/6).
Pemain yang pernah memperkuat Timnas saat berlaga melawan MU pada tahun 1975 bersama Anjas Asmara dan kawan-kawan, memaparkan bahwa sebagai sebuah tim besar MU memang akan menjaga reputasinya dimanapun mereka tampil.
Tetapi untuk laga melawan Indonesia All Stars dalam laga di Stadion Utama Gelora Bung Karno nanti, MU akan tampil dalam kemasan entertainment sehingga tak akan terlalu ngotot menghadapi Boaz Salossa dan kawan-kawan meski dipastikan akan menunjukkan kualitasnya.
Secara kualitas MU memang level Eropa, tapi kedatangannya ke Indonesia adalah dalam rangka wisata dan mereka akan bermain nothing to lose saja. Dengan kondisi seperti itu saya kira tim kita akan mampu mengimbangi karena MU tidak bertanding dalam sebuah kejuaraan, paparnya.
Bagi tim Indonesia sendiri, lanjutnya, pertandingan ini akan bermakna penuh gengsi sehingga para pemain tak akan tampil sembrono dan akan menunjukkan jatidirinya sebagai pemain terbaik pilihan masyarakat. Junaidi pun percaya sepenuhnya kepada pilihan masyarakat jika Boaz Salossa, Bambang Pamungkas, Budi Sudarsono, Charis Yulianto, Markus Horison, Firman Utina, Ismed Sofyan, TA Musyafri ataupun Ferry Rotinsulu yang sementara mengungguli nominasi pilihan melalui polling sms ke Panpel Tour MU di Jakarta merupakan pemain terbaik nasional saat ini.
Materi Timnas kita pasti yang terbaik. Mereka akan bermain bagus dan penuh percaya diri. Tentu mereka tak ingin diberitakan buruk di media-media massa. Sesama pemain sepakbola, mereka tak perlu takut. Melihat realita itu bukan tak mungkin tim Indonesia membuat kejutan, ujar pemain seangkatan Sutjipto Soentoro, Oyong Liza, Waskito dan Jacob Sihasale ini.
Junaidi Abdillah yang pernah mengantarkan Timnas Indonesia meraih runner-up Kejuaraan Juior Asia di bawah Israel pada tahun 1967 ini menambahkan, kedatangan MU ke Jakarta dalam rangka Tour Asia-nya yang sekaligus mengisi liburan kompetisi ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menggairahkan persepakbolaan nasional.(anm/alm/sfd) |
|