Thursday, 09 September 2010
Rubrik
Jerman Pantas Jadi Unggulan, Wasit Membuat Keputusan Kontroversial PDF Print E-mail
Written by tamzirien   
Monday, 28 June 2010 14:11
Gelandang Jerman, Thomas Mueller (tengah), melompat gembira setelah mencetak gol yang keempat bagi Jerman ke gawang Inggris yang dijaga David James (bawah) pada laga perdelapan final Piala Dunia 2010 di Free State, Bloemfontein, Afrika Selatan, Minggu (27/6). Jerman menang 4-1.

Senin, 28 Juni 2010 | 04:41 WIB

Bloemfontain, Minggu - Setelah menghancurkan Inggris, 4-1 (2-1), di Stadion Free State, Bloemfontain, Minggu (27/6), Jerman pantas menjadi unggulan. Jerman bersiap menghadapi Argentina atau Meksiko di perempat final hari Sabtu, 3 Juli 2010. Sampai berita ini diturunkan, Argentina sedang menghadapi Meksiko.

Inggris akhirnya takluk di tangan Jerman, tetapi sebuah golnya di babak pertama dianulir wasit Jorge Larrionda (Uruguay) yang tidak mengesahkan gol Frank Lampard. Padahal, dalam tayangan ulang televisi, bola terlihat telah masuk ke gawang.

Pemain-pemain Inggris sempat merayakan gol, termasuk pelatih mereka, Fabio Capello, tetapi Larrionda tidak mengesahkan gol itu dan pertandingan tetap berjalan dengan bola dikuasai pemain-pemain Jerman. Padahal, seandainya tendangan Lampard disahkan menjadi gol, kedudukan menjadi imbang 2-2.

Inggris sebelumnya tertinggal dua gol lewat aksi Miroslav Klose dan Lukas Podolski sebelum memperkecil kedudukan lewat gol tandukan Matthew Upson.

Keputusan kontroversial itu seperti mengingatkan pada kenangan Piala Dunia 1966. Namun, dalam peristiwa itu kejadiannya terbalik. Ketika itu Inggris berada di pihak yang diuntungkan.

Dalam pertandingan final di Stadion Wembley, waktu itu pemain Jerman, Wolfgang Weber, menyamakan kedudukan, 2-2. Hasil itu membuat pertandingan dilanjutkan dengan babak tambahan.

Ketika itu Jerman sudah di atas angin, sebelum datang gol kontroversial dari pemain Inggris, George Hurst. Menurut pemain Jerman, jelas bola belum masuk ke gawang, tetapi wasit mengesahkannya menjadi gol.

Kedudukan pun berubah menjadi 3-2 untuk Inggris yang kemudian berhasil menambah satu gol lagi dan menang 4-2.

”Inggris tersingkir karena keputusan yang mengerikan. Benar-benar keputusan yang sangat keliru,” ujar mantan pemain nasional Inggris, Alan Shearer, seperti dikutip BBC.

Pertandingan antara Inggris dan Jerman berlangsung menegangkan. Pada awal pertandingan, kedua tim bermain dalam tempo lambat untuk menemukan irama permainan sekaligus mencari kelemahan lawan.

Pertahanan lemah

Jerman baru mempercepat tempo pertandingan setelah memasuki menit ke-15. Tekanan demi tekanan tak mampu dibendung sektor pertahanan Inggris yang terlihat sangat lemah membaca arah permainan bola pemain-pemain Jerman.

Sebuah kesalahan fatal harus dibayar Inggris. Pemain belakang mereka gagal mengantisipasi tendangan langsung penjaga gawang Jerman, Manuel Neuer. Bola yang menuju jantung pertahanan Inggris tepat jatuh di kaki Klose yang dengan mudah mengecoh Matthew Upson sebelum melepaskan tembakan keras tanpa mampu dibendung David James.

Gol Klose membuat pemain Inggris kalut. Belum sempat membenahi permainan, mereka kembali dikejutkan gol Podolski.

Lagi-lagi gol ini lebih karena buruknya pertahanan Inggris. Pemain Jerman membuat kerja sama yang baik diawali pergerakan Mesut Oezil yang memberikan umpan matang kepada Klose yang dilanjutkan ke Thomas Mueller sebelum memberikan umpan matang kepada Podolski.

Meski berada di bawah tekanan, Inggris masih bisa bangkit. Hanya lima menit berselang Upson mencetak gol memanfaatkan umpan silang Steven Gerrard.

Gol itu semakin meningkatkan semangat pemain Inggris sampai terjadinya keputusan kontroversial Larrionda yang tidak mengesahkan tendangan Lampard menjadi gol.

Di babak kedua, tempo pertandingan tetap cepat. Inggris terus berusaha mengejar, tetapi para pemain Jerman juga tak mengendurkan tekanan.

Petaka bagi Inggris akhirnya datang ketika Mueller mencetak dua gol hanya dalam tempo tiga menit untuk mengubah kedudukan menjadi 4-1. Lagi-lagi gol ini tercipta karena buruknya koordinasi pertahanan Inggris.

”Sulit bagi kami menerima kekalahan ini. Terlepas dari keputusan kontroversial, Jerman memang tampil sangat bagus,” ujar Capello.

Bagi Inggris, kekalahan ini menambah rekor buruk pertemuan mereka dengan Jerman di Piala Dunia. Inggris terakhir kali menang pada Piala Dunia 1966. Pada Piala Dunia berikutnya tahun 1970, Inggris dipukul 2-3 di babak perempat final.

Setelah itu, 12 tahun kemudian, Inggris kembali bertemu dengan Jerman di babak penyisihan grup Piala Dunia tahun 1982 di Spanyol. Kedua tim bermain imbang 0-0.

Tahun 1990 di Italia, Inggris kembali jumpa Jerman. Kali ini mereka bertemu di babak semifinal. Ketika itu Jerman unggul terlebih dahulu lewat gol Andreas Brehme pada menit 60.

Akan tetapi, Inggris memperpanjang napas lewat gol balasan Gary Lineker pada menit ke-80 sampai babak tambahan 2 x 15 menit. Namun, Inggris tetap menjadi pecundang setelah Stuart Pierce dan Chris Waddle gagal mengeksekusi penalti.

Kemenangan Jerman atas Inggris membawa mereka ke babak perempat final. Tim polesan Joachim Loew kemungkinan besar akan berjumpa dengan Argentina. Sampai berita ini turun, Argentina masih menghadapi Meksiko di Stadion Soccer City, Johannesburg. (OTW)

 
Mengapa Amerika Selatan Perkasa? PDF Print E-mail
Written by taufiq.attamzirien   
Monday, 28 June 2010 14:05
Babak 16 besar Piala Dunia 2010 telah menghasilkan pemenang, yakni tim-tim Amerika Selatan. Kelima wakil kawasan itu lolos ke putaran kedua. Satu dari mereka, yakni Uruguay, bahkan telah menapak perempat final. Satu tempat pasti mereka rebut dari laga Brasil versus Cile.

Dari bagan pertandingan, terbuka peluang terjadinya dominasi empat tim Amerika Selatan di semifinal (all-South American semifinal) meski kemungkinannya kecil. Menariknya, sejauh ini hanya satu dan baru sekali tim Amerika Selatan kalah, saat Cile dipukul Spanyol 1-2 pada penyisihan Grup H. Hasil yang tetap membuat Cile lolos.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa tim-tim Amerika Selatan begitu perkasa di Piala Dunia pertama di Benua Afrika ini? Apakah itu menjadi indikasi bahwa juara Piala Dunia 2010 bakal jatuh ke salah satu tim dari mereka? Pertanyaan seperti itu menjadi topik menarik di kalangan wartawan peliput Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Dari 15 laga yang dijalani lima tim zona Amerika Selatan (Conmebol) di penyisihan, 10 di antara mereka menangkan, empat berakhir imbang, dan hanya sekali mereka kalah. Uruguay bahkan lolos ke perempat final pertama kali sejak 1966.

 

Paling kompetitif

Muncul berbagai analisis untuk menjelaskan fenomena ini. Penjelasan paling sederhana, yakni dengan melihat perjalanan tim-tim Amerika Selatan itu merebut tiket lolos Piala Dunia 2010 dalam kualifikasi zona Conmebol. Persaingan di zona itu disebut-sebut paling ketat dan kompetitif.

Zona Conmebol dihuni 10 negara sehingga setiap tim harus menjalani total 19 laga kualifikasi di kandang dan tandang. Hanya empat tim yang berhak lolos plus satu melalui jalur play off. Selisih nilai hasil kualifikasi di antara empat tim yang lolos sangat ketat: Brasil (34 poin), Cile (33), Paraguay (33), dan Argentina (28). Uruguay lolos lewat play off, menang atas Kosta Rika.

”Jika Anda lihat (kualifikasi) Amerika Selatan, Anda bakal temukan tim-tim yang sangat berimbang. Tidak ada satu pun laga yang dapat diasumsikan Anda bakal memetik tiga poin,” kata Pelatih Paraguay Gerardo Martino. ”Bahkan saat menghadapi Peru, juru kunci klasemen, Brasil atau Argentina pun tak mampu menang.”

Saat menjamu Peru di Buenos Aires, pasukan Diego Maradona harus butuh gol injury time untuk memenangkan laga. Satu lagi yang pasti berat bagi tim-tim kawasan tersebut, mereka harus bersaing dengan juara dunia lima kali, Brasil, dan juara dua kali, Argentina. Dari persaingan semacam itu, wajar jika Paraguay, Cile, atau Uruguay tidak kesulitan menembus babak 16 besar Piala Dunia 2010.

Fenomena Paraguay-Cile

Paraguay bahkan lolos sebagai juara Grup F yang dihuni juara bertahan Italia dan kini telah tersingkir. Tim asuhan Martino saat ini diperkuat generasi baru para pemain bertalenta tinggi yang menonjol di kawasan Amerika Selatan sejak 2006. Mereka mengawali kualifikasi dengan brilian: menekuk Uruguay 1-0, Ekuador 5-1, Cile 3-0, bahkan termasuk Brasil 2-0.

Striker mereka, seperti Roque Santa Cruz, Nelson Haedo Valdes, dan Salvador Cabanas, memainkan sepak bola menyerang yang memukau. Ditambah kokohnya benteng pertahanan mereka, Paraguay sempat memimpin klasemen Conmebol beberapa pekan.

Cile juga tidak kalah hebatnya. Kemajuan sepak bola negeri itu bisa juga dilihat performa klub mereka di Copa Libertadores, ajang tempat klub-klub Paraguay, Cile, dan negara lainnya ditempa.

Musim lalu, klub Brasil, Flamengo, disingkirkan Universidad de Chile (Cile). Jika Meksiko juga dihitung, Velez (Argentina) didepak Chivas Guadalajara, klub papan atas Meksiko.

Hal lain yang perlu dicermati adalah kuatnya interaksi para pelatih dan pemain di kawasan Amerika Selatan. Begitu banyak pelatih dan pemain Argentina, misalnya, yang berlaga di klub- klub negara tetangga. Timnas Cile dan Paraguay juga ditangani Pelatih Argentina Marcelo Bielsa dan Martino.

Terbiasa di ketinggian

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan. Tim-tim Amerika Selatan itu merebut tiket lolos ke Afrika Selatan setelah menjalani beberapa laga di ketinggian yang cukup ekstrem. ”Anda harus bertanding dalam cuaca panas atau di La Paz dengan ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut yang menuntut persiapan khusus,” kata Martino.

Karena itu, para pemain tim-tim Amerika Selatan tidak kaget ketika menghadapi medan Afrika Selatan dengan ketinggian rata-rata 1.500-1.700 meter. seperti di Johannesburg, Pretoria, Rustenburg, Polokwane, atau Bloemfontein. ”Mengacu hal ini, saya melihat kualifikasi Eropa lebih mudah,” kata Martino.

Zona Eropa terdiri atas 53 negara dan mendapat jatah 13 tim di Piala Dunia. Mereka dibagi sembilan grup, setiap grup terdiri enam tim kecuali satu grup yang dihuni Belanda (lima tim). Dengan sistem tersebut, cukup berlaga delapan atau sepuluh kali, tim zona Eropa sudah lolos ke Piala Dunia.

Tim-tim Eropa juga tidak terlalu dihadapkan masalah kelelahan pemain. Pemain mereka ibaratnya tinggal terbang dari satu kota ke kota lain untuk menjalani kualifikasi. Kemudahan seperti itu tidak diperoleh para pemain tim-tim negara Amerika Selatan, yang umumnya bermain di klub-klub Eropa dan harus terbang melintasi Samudra Atlantik sebelum bertanding.

”(Kualifikasi) zona Amerika Latin adalah salah satu yang paling berat di dunia,” kata Maradona ketika ditanya soal tangguhnya tim-tim Amerika Selatan saat ini. Apakah ini indikasi bahwa juara dunia 2010 bakal datang dari Amerika Selatan (Brasil atau Argentina)? Waktulah yang akan menjawab.

 

(Mh Samsul Hadi dari Johannesburg, Afsel)

 
Persisam Kurangi Poin PDF Print E-mail
Written by fathun   
Tuesday, 08 June 2010 08:09
Formula, Samarinda  - Klub Persisam Putra Samarinda meminta kepada Badan Liga Indonesia (BLI) untuk menerapkan sangsi pengurangan tiga poin pada musim kompetisi tahun 2009/2010.

" Secara lisan kami sudah menyampaikan permintaan ini kepada Joko Driyono, namun kami akan mengirimkan surat resminya kepada BLI secepat mungkin," kata Harbiansyah Hanafiah, jenderal manajer Persisam Putra di Samarinda, Senin (7/6/2010).

Pertimbangan permintaan pengurangan poin itu, menurut dia, supaya pada kompetisi berikutnya, yakni musim 2010/2011, persoalan pengurangan poin itu tidak menjadi polemik lagi.

" Sehingga tim baik pemain maupun pelatih bisa berkosentrasi penuh menjalani pertandingan di kompetisi mendatang," imbuh Harbiansyah.

Ia mengakui awalnya terkait pengurangan poin tiga itu, pihaknya selalu menyakinkan kepada tim bahwa pengurangan poin itu tidak ada.

Strategi ini diterapkan supaya situasi dan kondisi tim tetap kondusif dalam upayanya berjuang untuk lepas dari zona degradasi di ajang kompetisi Indonesia Super Liga (ISL).

" Pada saat itu kebetulan setelah melunasi pembayaran kepada Vatamanu Garcia kami juga punya surat dari PSSI yang mempertegas bahwa pengurangan poin itu diberlakukan pada saat tim Persisam masih di kompetisi Divisi Utama," tegas Harbiansyah.

Pihaknya juga pernah meminta kepada PSSI, bila pengurangan poin tiga itu jadi diberlakukan maka Persisam meminta ketika kompetisi sudah berakhir.

" Kami menganggap ini momen yang tepat karena hasil akhir kompetisi ini tim Persisam masih berada pada zona aman meski dikurangi tiga poin," lanjut Harbiansyah.

Pada akhir kompetisi tim Persisam mengoleksi 44 poin dan menduduki peringkat 12.

Bila sangsi itu diterapkan maka tim Persisam akan turun dua tingkat dan berada di urutan empat belas dengan poin 41.

" Kami banyak belajar dari pengalaman kemarin, sehingga kami harapkan kasus itu tidak terulang lagi, dan semua pemain bisa berkosentrasi penuh pada pertandingan," tegas Harbiansyah.(an/am/al)
 
Karyawan PBSI diberi Sanksi karena Lalai PDF Print E-mail
Written by fathun   
Tuesday, 08 June 2010 08:04
Formula, Jakarta - Pengurus Besar Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia akan menjatuhkan sanksi bagi karyawan yang lalai sehingga menyebabkan tiga pebulutangkis tidak bisa tampil di Indonesia Terbuka Super Series.

"Saya setuju harus ada sanksi karena tidak ingin kejadian seperti ini terulang lagi pada masa yang akan datang. Sanksi sedang digodog," ujar Sekretaris Jenderal PB PBSI Yacob Rusdianto usai bertemu dengan Vita Marissa dan Hendra Aprida Gunawan di Jakarta, Senin (7/6/2010).

Seperti diberitakan sebelumnya, akibat kelalaian karyawan yang bertugas mendaftarkan pemain, tiga pebulutangkis profesional, yakni Vita Marissa, Hendra Aprida Gunawan, dan Alvent Yulianto, tidak terdaftar sebagai peserta Indonesia Terbuka meskipun diakui ketiganya telah mengajukan pendaftaran.

Absennya ketiga pemain itu tidak hanya membuat mereka terancam dijatuhi penalti oleh pihak sponsor, tetapi juga kehilangan poin yang mengancam peringkat mereka.

Pada kesempatan tersebut Yacob mengakui terjadi kesalahan prosedur yang dilakukan PBSI.

"Kami sangat menyesalkan hal ini bisa terjadi. Sebagai Sekjen, saya minta maaf. Tidak ada unsur kesengajaan," katanya menegaskan.

Ia mengatakan bahwa PBSI memang menerima karyawan untuk menangani pendaftaran. "Kalau sampai terjadi kekeliruan yang sangat merugikan PBSI, tentu akan dievaluasi," katanya menandaskan.

Soal sanksi yang akan dijatuhkan kepada karyawan yang lalai, Yacob mengatakan sedang menelusuri letak kesalahannya di mana. "Apakah benar ada surat pendaftaran, hilangnya di mana? Dan, siapa yang menghilangkan?" katanya.

Sementara itu, Vita mengatakan dirinya selain mengadukan masalah tersebut ke Menegpora, juga telah menemui Ketua Umum KONI/KOI Rita Subowo untuk mengadukan hal yang sama.

Ia juga berharap pihak PBSI bersama-sama dengan dirinya dan kawan-kawan menjelaskan kepada pers mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

"Saya tetap ingin PBSI dan kami bersama-sama menjelaskan duduk persoalannya," kata pemain yang bersama Hendra menempati peringkat empat ganda campuran dunia itu.(an/am/al)
 
Juara LSI Tunduk pada All Star PDF Print E-mail
Written by fathun   
Tuesday, 08 June 2010 07:57
Formula, Malang - Juara Liga Super Indonesia (LSI) 2009/2010, Arema Indonesia, tunduk pada tim all stars dalam laga perang bintang yang dihelat di Stadion Kanjuruhan Kepanjen, Kabupaten Malang, Minggu (6/6/2010) malam.

Kekalahan tipis 4-5 itu berawal dari gol cepat pada menit ke-10 yang mengoyak gawang pemain terbaik LSI 2009/2010, Kurnia Meiga itu dilesakkan pemain asing all stars Park Jung Hwan, yang disusul gol kedua oleh Aldo Baretto.

Tertinggal 0-2, para pemain Arema Indonesia melipatgandakan motivasinya untuk menjebol gawang tim all star yang dikawal mantan kiper utama Singo Edan, Markus Haris Maulana. Kerja keras anak asuh Robert Rene Alberts pada babak pertama itu membuahkan gol pada menit ke-22 dan ke-24.

Kedua gol yang bersarang ke gawang Markus Haris Maulana pada babak pertama itu dipersembahkan oleh Roman Chamelo pada menit ke-22 dan Noh Alam Shah pada menit ke-24.

Namun, menjelang berakhirnya 45 menit babak pertama pertandingan yang dipimpin wasit terbaik LSI 2009/2010, Oki Dwi Putra, gawang Arema Indonesia kembali kebobolan dan kedudukan menjadi 2-3 hingga babak pertama berakhir.

Memasuki 45 menit babak kedua, Arema Indonesia kembali kebobolan pada menit-menit awal. Dua menit setelah "kick off" babak kedua atau tepatnya menit ke-47, gawang Kurnia Meiga kembali jebol oleh tendangan Aldo Baretto yang cukup keras.

Arema kembali tertinggal 2-4, namun tim asuhan Robert Rene ALberts itu kembali mampu memperkecil kekalahan setelah Roman Chamelo mampu menjebol gawang markus Haris Maulana pada menit ke-57, sehingga kedudukan menjadi 3-4.

Dalam posisi skor 3-4, pelatih tim "all star" Jacksen F Tiago menarik Markus Haris Maulana dan digantikan Ferry Rotinsulu (Sriwijaya). Namun, beberapa menit kemudian Ferry Rotinsulu harus memungut bola dari gawangnya setelah Dendy Santoso menyamakan kedudukan 4-4 pada menit ke-57.

Pergantian pemain kedua kubu tak terhindarkan lagi, bahkan hampir semua pemain yang dimiliki kedua tim diturunkan dalam laga perang bintang tersebut.

Hanya saja, kedudukan 4-4 tak bisa dipertahankan para pemain Arema Indonesia hingga berakhirnya pertandingan. Pada menit ke-72, gawang Arema yang sudah dikawal Iswan Karim kembali terkoyak oleh lesakan Christian Gonzales dan kedudukan menjadi 4-5.

Pertandingan terakhir pada seluruh rangkaian LSI 2009/2010 tanpa satu pun kartu kuning itu berakhir dengan kekalahan tim juara denagn skor tipis 4-5.

Sementara itu selama perhelatan kompetisi LSI 2009/2010 itu panpel Arema Indonesia dinobatkan sebagai panpel terbaik dan MC terbaik dianugerahkan pada Ovan Tobing yang juga MC Arema Indonesia.(am/an/al)
 
«StartPrev12345678910NextEnd»

Page 1 of 182